Ahmet Gurhan Kartal
07 Maret 2018•Update: 08 Maret 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Atlet Olimpiade dan pelari tersukses asal Inggris Sir Mo Farah mengadukan perlakuan "pelecehan rasial" yang dihadapinya di sebuah bandara di Jerman.
Sebuah video yang diunggahnya ke media sosial menunjukkan Farah didorong dan diseret oleh petugas keamanan bandara Jerman.
"Sedih melihat pelecehan masih terjadi pada masa kini. 2018...!!!," tulis Farah.
Atlet Inggris itu mengatakan dia mengalami pelecehan ras "berulang kali" di bandara Jerman "hanya karena memakai jaket bertudung [hoodie]".
"Pria ini menyentuh saya dimana-mana," keluh Farah. "Ini benar-benar melecehakan. Anda tidak perlu mendorong-dorong saya," cetusnya kepada personel keamanan itu, seperti yang ditunjukkan rekaman video.
Video itu kemudian menjadi viral di media sosial Inggris tidak lama kemudian. Rekaman itu juga menunjukkan Farah digiring ke pesawat oleh seorang personel bandara dan kemudian didorong ketika dia minta agar "tidak disentuh".
Farah tampak didorong berulang kali dan petugas bandara mengatakan dia "tidak perduli" video itu disiarkan langsung ke media sosial.
"Itulah cara mereka memperlakukan saya. Apakah kalian melihat itu? Tidak bisa dipercaya," terdengar Farah mengatakan itu dalam rekaman video.
Seorang juru bicara mengatakan Farah "merasa menerima perlakukan tidak adil karena rasnya", seperti dilansir surat kabat The Telegraph.
"Terjadi sebuah insiden hari ini di sebuah bandara di Jerman ketika Mo melakukan perjalanan kembali ke pusat pelatihannya di Ethiopia," kata juru bicara itu.
"Mo merasa insiden itu dipicu oleh perbedaan ras dan dia diperlakukan secara tidak adil oleh petugas keamanan bandara," lanjutnya.
Pernyataan itu tidak menjelaskan dimana insiden tersebut terjadi.
Mohamed Muktar Jama "Mo" Farah adalah salah satu atlet papan atas Inggris. Dia memiliki 10 medali emas dari kompetisi global serta Olimpiade.
Dia memenangkan medali emas untuk maraton 5.000 meter dan 10.000 meter pada turnamen Olimpiade 2012 dan 2016, menjadi atlet kedua yang mencetak prestasi itu dalam sejarah Olimpiade.
Farah lahir dalam sebuah keluarga Muslim di Somalia namun kemudian pindah dan menetap di Inggris.
Pada 2017, dia menerima gelar kehormatan dari Ratu Elizabeth II karena prestasinya yang luar biasa.