31 Agustus 2017•Update: 31 Agustus 2017
Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Filipina menyambut baik tawaran Australia untuk melatih pasukan pemerintah dalam memerangi aksi teror Daesh.
"Tawaran bantuan untuk pelatihan Angkatan Bersenjata Filipina sangat disambut baik. Peperangan melawan terorisme - untuk ditegaskan kembali - bukan hanyalah masalah FIlipina saja, namun juga masalah banyak bangsa di dunia," kata juru bicara presiden Ernesto Abella dalam sebuah pernyataan.
"Filipina dalam berbagai kesempatan telah menyatakan kesediaannya untuk menerima bantuan dari luar negeri jika mereka menawarkannya," tambahnya. Namun Abella mengklarifikasi bahwa bantuan dari luar negeri hanya "terbatas pada masalah teknis, pelatihan, dan pengumpulan dan pembagian informasi", karena undang-undang Filipina melarang partisipasi langsung dari tentara asing dalam operasi tempur.
Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop mengatakan, tawaran untuk saran, pelatihan, dan pendampingan militer Filipina adalah bantuan yang sama yang diberikan dari Australia ke Irak.
Awal bulan ini, pemerintah Australia mengalokasikan bantuan senilai USD 20 juta yang akan diberikan dalam empat tahun ke depan untuk hampir 400.000 jiwa yang mengungsi akibat bentrokan yang sedang berlangsung di Marawi, selain dari bantuan makanan senilai USD 920.000, dan bantuan lain-lain, yang diumumkan pada Juni lalu. Canberra juga mengirim dua pesawat pengintai untuk membantu pasukan pemerintah dalam pertempuran di Marawi.
Militan dari kelompok Maute dan Abu Sayyaf menguasai Marawi, di selatan pulau Mindanao, pada 23 Mei, yang mendorong Presiden Rodrigo Duterte untuk memberlakukan darurat militer di pulau Mindanao hingga akhir tahun.