13 Juli 2017•Update: 14 Juli 2017
Hader Glang
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Pasukan tentara pemerintah Filipina mengambil alih 54 gedung yang diduduki oleh teroris yang berhubungan dengan Daesh di Marawi City, sebelah selatan pulau Mindanao, kata pihak militer pada Rabu.
“Kami sudah merebut kembali 54 gedung yang tadinya dikuasai oleh para penembak jitu teroris Maute,” ujar Kapten Jo-Ann Petinglay, juru bicara Komando Mindanao Barat kepada Anadolu Agency.
Beberapa di antara gedung-gedung tersebut adalah bangunan berlantai tinggi dan bekas gedung sekolah yang diduduki oleh teroris Maute ketika mereka mendesak masuk ke bagian komersial Kota Marawi pada 23 Mei lalu, sebut Patinglay.
Beberapa gedung juga digunakan sebagai gudang senjata dan markas karena posisinya yang menguntungkan bagi teroris Maute dan kelompok kriminal lain, tambahnya.
GMA News melaporkan bahwa operasi pembersihan oleh militer Filipina ini bertujuan untuk mengusir teroris dan mengambil alih kekuasaan di beberapa bagian kota yang dijadikan pusat pertahanan oleh Maute, pernyataan ini dikutip dari juru bicara Joint Task Force Marawi Letkol Jo-ar Herrera.
Herrera juga berkata kalau sekitar 800 gedung di Marawi belum dapat diambil alih dari kelompok Maute, 80 di antaranya berada di pusat perang di dalam kota.
Serangan darat dan udara juga masih berlangsung saat ini untuk mengusir anggota teroris yang masih bertahan di dalam gedung-gedung yang berada di distrik utama kota, tambah dia.
Pihak militer meyakini bahwa Adbullah Maute masih berpengaruh atas beberapa anggota Maute, sementara keberadaan Isnilon Hapilon - “emir” yang ditunjuk sebagai pimpinan Daesh di Filipina dan Asia Tenggara - belum dibuka oleh militer.
Sementara itu, juru bicara angkatan bersenjata Filipina Brigjen Restituto Padilla berkata sebanyak 300 rakyat sipil masih terperangkap di area yang diduduki kelompok Maute di Marawi City, di mana perang sudah menginjak hari ke-51, lapor Kantor Berita Filipina.
“Ada sekitar 300 (orang) atau lebih yang belum berhasil diketahui,” kata Padilla, mengutip laporan dari pemerintah lokal Marawi City.
Rakyat sipil yang belum diketahui ini termasuk penduduk kota yang masih bersembunyi di dalam rumah mereka atau orang hilang yang kemungkinan dijadikan sandera oleh para teroris, tambah dia.
“Untuk saat ini, kami belum pernah mendatangi tempat-tempat yang sudah pernah diduduki musuh, dan begitu kami melakukannya mungkin kami akan dikejutkan jumlah korban atau mayat yang ditinggalkan oleh para musuh,” ucapnya.
Data terakhir korban kekejaman Kelompok Maute tercatat sebanyak 381, yang terdiri dari 39 masyarakat sipil dan 90 pasukan pemerintah. Senapan yang dirampas dari teroris Maute sebanyak 461 buah dan masyarakat sipil yang diselamatkan sebanyak 1.723 orang.