Muhammad Latief
28 September 2017•Update: 29 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Penanganan bencana di Gunung Agung, Bali, tidak hanya menyangkut aspek manusia saja, namun juga hewan-hewan peliharaan warganya, kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Kamis.
Selama ini, sebut Sutopo, warga yang mengungsi masih pulang-pergi dari kamp pengungsian ke rumah mereka karena mengurusi ternak.
“Setiap pagi-siang mereka kembali ke rumah untuk memberi pakan sapinya,” ujar Sutopo.
Sutopo memperkirakan, jumlah sapi yang berada di radius berbahaya ada sekitar 30 ribu ekor. Sebanyak 10 ribu di antaranya sudah dievakuasi oleh masyarakat mandiri. Target BNPB, 20 ribu ekor sapi lain bisa dievakuasi dari wilayah yang terdampak erupsi Gunung Agung.
Hingga Rabu, 27 September kemarin, sebanyak 1.384 ekor sapi sudah dievakuasi di 30 titik yang tersebar di lima kabupaten oleh Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Sementara, 18.616 ekor sapi dalam proses evakuasi.
Evakuasi ternak ini, kata Sutopo, terkendala terbatasnya kendaraan angkut yang hanya 20 unit truk. Persediaan pakan ternak di titik evakuasi juga terbatas, padahal kebutuhan konsentrat sapi untuk satu bulan bisa mencapai 1.200 ton.
“Saat ini sudah tersedia 60 ton. Pakan hijaun [dedaunan pakan sapi] dalam satu bulan butuh 15.000 ton,” ujar dia.
Warga di sekitar gunung, kata Sutopo, memang mempunyai hubungan yang unik dengan ternak. Mereka bahkan tidak mau mengungsi meski situasi sudah cukup berbahaya dengan alasan menjaga sapi-sapi mereka.
Saat erupsi Gunung Merapi pada 2010, korban meninggal dunia mencapai 277 jiwa. Banyaknya jumlah korban juga disebabkan masyarakat yang tidak mau mengungsi karena menjaga sapi.
“Sapi adalah bagian hidup dan kultur bagi masyarakat di sekitar gunung,” lanjut Sutopo.
Saat ini, jumlah pengungsi dari Gunung Agung terus bertambah. Hingga Kamis pagi tercatat ada 104.673 jiwa pengungsi yang tersebar di 447 titik pengungsian di 9 kabupaten/kota di Provinsi Bali.
Sebaran pengungsi adalah Kabupaten Badung 15 titik (5.879 jiwa), Kabupaten Bangli 30 titik (6.158 jiwa), Kabupaten Buleleng 26 titik (16.901 jiwa), Kota Denpasar 46 titik (10.051 jiwa), Kabupaten Gianyar 13 titik (1.098 jiwa), Kabupaten Jembrana 29 titik (420 jiwa), Kabupaten Karangasem 100 titik (39.859 jiwa), Kabupaten Klungkung 162 titik (19.456 jiwa), dan Kabupaten Tabanan 26 titik (4.851 jiwa).
Untuk masalah logistik, Sutopo menyebut “stok logistik untuk pengungsi masih cukup”.