Burcu Calik, Ayse Sensoy, Zehra Aydin
24 Desember 2017•Update: 25 Desember 2017
Burcu Calik, Ayse Sensoy, Zehra Aydin
ANKARA
Presiden Turki pada Sabtu mengkritik ancaman Presiden AS Donald Trump yang dilakukan menjelang voting Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait Yerusalem.
Erdogan menilai uang dan intimidasi tidak cukup untuk memengaruhi hasil voting.
Majelis Umum PBB yang beranggotakan 193 negara pada Kamis mengadopsi resolusi Yerusalem dengan suara mayoritas, memerintahkan AS untuk menarik pengakuannya terhadap kota tersebut sebagai ibu kota Israel.
Total 128 negara anggota mendukung resolusi Yerusalem, sembilan negara menolak, dan 35 negara abstain. Sebanyak 21 negara tidak memberikan suara.
Trump telah memeringatkan bahwa AS akan memotong bantuan untuk negara-negara yang tidak mendukung tindakan Washington ini pada pertemuan Majelis Umum PBB.
Erdogan berkata hasil voting PBB membuktikan bahwa uang tidak bisa membeli kehendak.
“Seperti yang kalian ketahui, semua orang berdiri bersama di PBB. 128 melawan sembilan. Ini berarti kehendak tidak bisa dibeli dengan uang, intimidasi," kata Erdogan di hadapan publik menjelang kongres provinsial Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di Provinsi Hakkari.
Dalam kesempatan terpisah, Erdogan ketika berada di kongres partai di Provinsi Sirnak yang terletak di tenggara Turki itu mengatakan bahwa Turki tidak akan "memperbolehkan Yerusalem menjadi kepentingan pribadi" dan fanatisme ideologis".
"Kami juga akan mempertahankan hak dan keadilan kaum Ortodoks dan Katolik di Yerusalem jika perlu. Seperti yang sudah kami lakukan sepanjang sejarah terdahulu," kata Erdogan,
Dia pun menegaskan bahwa Turki tidak akan memperbolehkan Yerusalem menjadi tempat pertumpahan darah.
Terorisme PKK mencegah investasi
Di tempat yang sama, Erdogan juga membicarakan dampak terorisme PKK di tenggara, tepatnya di Provinsi Hakkari.
"Organisasi teroris tidak hanya membunuh para sandera, tidak hanya mengambil kehendak para sandera, tapi juga mencegah investasi di masa depan.
"Jika Anda melumpuhkan kerja para insinyur dan kontraktor dengan menggunakan ancaman, senjata, dan pemerasan, bagaimana investor akan datang ke sini? Kenapa mereka mau datang?" kata Erdogan.
Erdogan mengatakan bahwa ekspor dari Provinsi Hakkari tahun lalu mencapai USD 23,5 juta sementara impor mencapai USD 3,5 miliar, namun ia menekankan bahwa potensi provinsi tersebut sesungguhnya sepuluh kali lebih besar dari itu.
"Mudah-mudahan kami akan membangkitkan potensi ini bersama," kata Erdogan.
Turki, AS, dan Uni Eropa telah menetapkan PKK sebagai organisasi teroris. Sepanjang tiga dekade kampanye terornya melawan Turki, sudah lebih dari 40 ribu orang terbunuh.
Kelompok teror tersebut memanfaatkan perbatasan Irak utara yang bergunung untuk melancarkan serangan terhadap Turki dan markasnya terletak di Qandil, dekat dengan perbatasan Irak-Iran.
Sejak kampanye bersenjata teroris PKK kembali muncul pada Juli 2015, lebih dari 1.200 orang termasuk aparat keamanan dan warga sipil telah menjadi korban tewas.