Rıskı Ramadhan
31 Maret 2018•Update: 01 April 2018
Cansu Dikme, Sorwar Alam
ANKARA
Tawaran Prancis untuk menengahi Turki dan kelompok teror SDF yang dipimpin PYD/PKK di Suriah telah melampaui batasnya, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat.
Dalam pertemuan para gubernur dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) di ibu kota Ankara, Erdogan mengatakan, “Jika benar ada pernyataan 'kita dapat menjadi mediator antara Turki dan SDF' [oleh kepresidenan Prancis], maka itu telah melampaui batas orang yang mengatakan itu.
"Siapa Anda berbicara tentang mediasi antara Turki dan kelompok teror?" kata Presiden.
Erdogan menolak segala kemungkinan untuk negosiasi dengan kelompok-kelompok teror, dia menegaskan bahwa perjuangan Turki melawan terorisme akan terus berlanjut seperti operasi militer Turki yang sedang berlangsung di barat laut Suriah.
Pernyataan tertulis dari Istana Elysee pada Kamis mengatakan, Presiden Emmanuel Macron mengingatkan "komitmen Prancis melawan PKK dan komitmennya terhadap keamanan Turki" dalam pertemuannya dengan delegasi SDF yang dipimpin PYD/PKK.
Namun, seperti yang telah didokumentasikan oleh Turki, PYD/PKK dan SDF sebenarnya adalah cabang Suriah dari kelompok teroris PKK, yang diakui oleh Turki, Prancis, dan Uni Eropa sebagai kelompok teroris.
Macron mengklaim bahwa SDF "tidak memiliki hubungan operasional dengan kelompok teroris PKK", dan menambahkan bahwa "dapat terbentuk sebuah dialog antara SDF dan Turki dengan bantuan Prancis dan komunitas internasional".
Namun menurut Ankara, SDF didominasi oleh kekuatan PYD/PKK.
Presiden Turki menyebut penerimaan anggota kelompok teror di kepresidenan Prancis adalah bentuk permusuhan terhadap Turki.
Erdogan mengatakan bahwa Prancis sekarang tidak lagi memiliki hak untuk mengeluh tentang segala jenis kelompok teror, teroris dan kegiatan terornya.
Presiden Turki menegaskan bahwa SDF sama dengan kelompok teror PKK/PYD/YPG, dan perubahan nama kelompok itu tidak akan mengubah pendirian Turki terhadap mereka.
Dia meminta Eropa untuk tidak mencoba mengelabui Turki dengan mengubah nama kelompok teroris di Suriah.
“Kalian mencoba mencoba mengelabui kami dengan [perubahan nama] ini. Maaf, kami tahu semua dasar-dasar mereka [kelompok teror] ... Kami memiliki semua rincian, termasuk alamat mereka.
"Kami tahu mereka, bahkan jika kalian mengubah nama mereka setiap 24 jam."
Organisasi teroris PKK dalam kampanye terornya melawan Turki yang telah berlangsung selama 30 tahun, telah menewaskan 40.000 jiwa.
Ankara telah memperingatkan aktor-aktor internasional yang bekerja sama dengan kelompok-kelompok seperti PYD/PKK, YPG/PKK, dan SDF/PKK, bahwa mereka adalah PKK dengan nama berbeda.
Operasi di Suriah dan Irak
Mengenai operasi militer Turki yang sedang berlangsung di barat laut Suriah, Erdogan menyatakan bahwa 3.800 teroris telah dilumpuhkan sejak peluncuran Operasi Ranting Zaitun pada 20 Januari lalu.
Operasi ini bertujuan untuk membasmi teroris PKK/PYD-YPG dan Daesh dari wilayah Afrin.
Dia menegaskan kembali tekad Ankara untuk membersihkan perbatasan Turki dari para teroris.
"Kami telah memulai persiapan yang diperlukan untuk membersihkan daerah utara Suriah hingga perbatasan Irak," kata dia menyebutkan kota Ayn al-Arab, Tel Abyad dan Rasulayn di Suriah.
Dia menambahkan bahwa pasukan Turki dapat meluncurkan operasi melawan terorisme di Sinjar Irak utara secara "tiba-tiba".
PKK mulai aktif di Sinjar pada 2014 dengan dalih "melindungi" komunitas Ezidi di sana dari kelompok teroris Daesh.
Presiden Turki juga menawarkan kepada pemerintah Irak pilihan untuk meluncurkan operasi militer bersama melawan kelompok teror.
Erdogan menyatakan bahwa Sinjar telah menjadi alternatif bagi Qandil, yang merupakan “markas” kelompok teror PKK.