09 Juli 2017•Update: 11 Juli 2017
Ayhan Simsek
HAMBURG
Pertemuan G20 di Hamburg gagal mencapai konsensus Sabtu untuk memerangi perubahan iklim karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tetap menentang kesepakatan Paris yang ditandatangani tahun lalu.
Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan dalam konferensi pers bahwa tidak mungkin untuk mengatasi perbedaan mengenai hal ini dengan AS.
"Tapi saya sangat senang karena 19 negara anggota G20 lainnya sependapat bahwa kesepakatan Paris tidak dapat diubah, bahwa kami merasa berkomitmen terhadap apa yang telah kami sepakati dan hal itu dilaksanakan secepat mungkin," kata Merkel.
Meskipun memutuskan untuk menarik diri dari kesepakatan Paris, pihak AS menyatakan komitmen untuk "sebuah pendekatan yang menurunkan emisi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kebutuhan keamanan energi".
AS juga berjanji untuk bekerja sama dengan negara lain "untuk membantu mereka mengakses dan menggunakan bahan bakar fosil lebih bersih dan efisien dan membantu menyebarkan sumber energi bersih dan terbarukan lainnya".
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada wartawan di Hamburg bahwa 19 anggota menyuarakan komitmen terhadap kesepakatan di Paris, namun banyak yang merasa tidak nyaman dengan kesepakatan tersebut.
Apakah Turki meratifikasi kesepakatan tersebut setelah keputusan AS menarik diri dari kesepakatan tersebut akan sangat tergantung dengan negara lain menghormati janji mereka untuk mendukung kebijakan ramah iklim, kata Erdogan.
"Saya sempat berdiskusi secara terus terang dengan [Presiden Prancis Emmanuel] Macron dan Kanselir Jerman Merkel dalam hal ini," katanya. "Selama janji yang dibuat untuk kita belum terpenuhi, kita tidak akan meratifikasi Kesepakatan Paris ini di parlemen kita."
Erdogan menekankan bahwa tahun lalu, mantan Presiden Prancis Francois Hollande, yang memperjuangkan kesepakatan Paris, berjanji bahwa Turki akan dianggap sebagai negara berkembang dan tidak akan menghadapi sanksi keuangan.
Dalam Kesepakatan Paris, negara-negara industri menjanjikan dukungan finansial bagi negara-negara berkembang untuk tindakan perlindungan iklim, program alih teknologi dan peningkatan kapasitas.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh 195 negara pada April lalu dan bermaksud untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan mengurangi emisi karbon dan membatasi kenaikan suhu global menjadi di bawah 2 derajat celsius.