Hayati Nupus
26 April 2018•Update: 27 April 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia belakangan ini terkait fenomena gelombang suhu udara basah di atmosfir tropis atau Madden Julian Oscilation (MJO).
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan gelombang ini merambat dari Samudera Hindia menuju Samudera Pasifik dengan siklus 30-90 hari.
“Bertahan di suatu lokasi sekitar 3-10 hari, saat ini berada di kuadran empat, jadi uap air meningkat dan terjadi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah,” ungkap Herizal, Kamis, dalam siaran pers.
Fenomena ini, kata Herizal, menjadi lengkap dengan banyak berkembangnya pusaran di Indonesia. Hujan mengakibatkan banjir di Cilegon dan Bumi Ayu, lantas disertai puting beliung di Yogyakarta dan Minahasa.
“Gelombang atmosfir tropis ini, mampu meredam suhu panas di sejumlah wilayah yang sudah memasuki musim kemarau, namun hal itu tidak berarti kemarau tertunda,” ujar Herizal.
BMKG memperkirakan gelombang ini aktif di Indonesia hingga awal Mei. Setelah itu, atmosfir akan cenderung kering dan musim kemarau dominan terjadi di seluruh Pulau Jawa.