11 Oktober 2017•Update: 11 Oktober 2017
Gulbin Yildirim
WASHINGTON
Rebound ekonomi Turki yang menguat sejak akhir tahun lalu menjadi faktor utama revisi dalam proyeksi pertumbuhan negara, kata pejabat tinggi IMF, Selasa.
“Perekonomian telah mencapai pertumbuhan yang cukup pesat selama 2017 hanya lewat tingkat capaian output pada akhir kuartal kedua," kata Wakil Direktur IMF untuk penelitian Gian Maria Milesi-Ferreti dalam konferensi pers di Washington mengenai laporan World Economic Outlook (WEO).
Dalam laporan yang dirilis menjelang pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi Turki hingga 5,1 persen pada 2017, naik 2,6 persen dibanding dengan proyeksi sebelumnya, yaitu 2,5 persen.
Pertumbuhan ekonomi di Turki diperkirakan akan naik dari 3,3 persen menjadi 3,5 persen pada 2018.
Prakiraan tersebut tergolong luar biasa karena adanya ketidakstabilan regional, termasuk adanya percobaan kudeta pada Juli 2016, dan komitmen Turki untuk memerangi kelompok-kelompok teror di dalam negeri maupun di luar batas negaranya.
Menurut TurkStat, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, ekonomi Turki naik 5,2 persen selama kuartal pertama 2017 dan 5,1 selama kuartal kedua.
"Sebagai importir besar, pesatnya pertumbuhan ekonomi Turki dipengaruhi turunnya harga minyak," kata Milesi-Ferreti.
Terlepas dari hal itu, Milesi-Ferreti memperingatkan bahwa ekonomi Turki masih rentan terhadap berbagai tekanan di lingkungan pasar yang lebih sulit.
"Dengan meluasnya defisit neraca berjalan dan tingkat inflasi yang masih jauh dari target, kebijakan harus mampu mengatasi ketidakseimbangan ini," jelas dia.