Megiza Asmail
JAKARTA
Produksi sampah Indonesia yang mencapai 64 juta ton per tahun, di mana 3,2 juta ton merupakan sampah plastik dan 1,3 juta ton berakhir di laut, membuat pemerintah gencar melakukan kerja sama dengan negara lain untuk mengatasi masalah ini.
Terbaru, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman Arief Havas Oegroseno memastikan kerja sama dengan beberapa negara dan dukungan World Bank dapat membuat Indonesia mencapai target mengurangi sampah hingga 30 persen dan sampah plastik di laut hingga 70 persen pada 2022.
Meski begitu, Arief menceritakan, ada kendala yang kemudian ditemukan setelah dia menghadiri beberapa diskusi yang dilakukan kementeriannya dengan World Bank dan komunitas internasional. Ditemukan, standar dunia dalam pengelolaan sampah adalah USD15 per orang per tahun.
“Untuk di Indonesia rata-rata anggaran pengelolaan sampah sebenarnya USD6 per orang per tahun. Tapi dengan anggaran Rp 2,3 T [Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pemprov DKI Jakarta] berarti satu orang di Jakarta membutuhkan lebih dari USD15. Artinya ada gap yang sangat besar,” kata Arief dalam peninjauan Pintu Air Manggarai bersama World Bank, perwakilan Denmark dan Norwegia, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Selasa.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah pusat terus mengembangkan beberapa solusi untuk menangani sampah plastik. Mulai dari sistem pengubahan sampah menjadi energi, BBM, hingga menjadikan tambahan untuk bahan pembuat jalan.
“Kita harus mengubah mindset bahwa sampah plastik itu adalah uang. Harus ada pendekatan baru di mana private sector juga harus masuk dalam pengelolaan sampah kita. Karena itu pemerintah pusat tengah mengembangkan beberapa solusi,” imbuh dia.
Arief menyebut, dalam waktu dekat percobaan akan dilakukan di Denpasar dan Bekasi dengan membuat jalan dari bahan plastik. Dia mengatakan, pengolahan sampah plastik sebagai bahan pembuat jalan dapat mengurangi aspal sekitar 6 persen.
“Di India sudah dilakukan dan berhasil dengan membuat jalan 20 ribu kilometer,” kata dia.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, pada kesempatan yang sama, menegaskan bakal semakin merealisasikan rencana sungai bersih.
“Komitmen di Jakarta akan kita laksanakan dengan amat serius. Pasukan oranye di Jakarta setiap hari keliling untuk membersihkan sampah. Tetapi yang tidak kalah penting bagi kita bukan persoalan membersihkannya saja yang ada di hilir. Tantangan sebenarnya adalah di hulunya,” ujar Anies.
Anies menyebut salah satu gerakan yang sedang digenjot oleh pemerintahannya adalah aksi Gerebek Sampah. Dinas Kebersihan tidak hanya membersihkan sampah di sungai namun juga memberikan karung sampah untuk limbah rumah tangga warga di bantaran sungai.
“Karung-karung sampah itu nanti akan dijemput oleh petugas. Kita berharap program yang kita lakukan bukan hanya menyentuh sisi hilir, tapi juga hulunya. Karena setiap hari kita menghasilkan 7.000 ton sampah, jadi kita siap bekerja sama terus untuk ke depannya,” tegas Anies.
Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A. Chaves menilai jika berhasil memperbaiki masalah sampah plastik, maka Indonesia akan memberikan kontribusi besar terhadap persoalan sampah dunia.
“Norwegia, Denmark dan Indonesia sudah menyadari bahwa apa yang terjadi di satu laut dapat berdampak ke laut di negara lain. Indonesia merupakan negara kedua terpolusi di dunia. Artinya, akan ada kontribusi besar jika Indonesia bisa memperbaiki ini,” sebut Chaves.
Duta Besar Denmark Rasmus A. Kristensen dalam kesempatan tersebut mengatakan Indonesia mempunyai sejarah kemaritiman yang panjang. Karenanya, Denmark menyatakan dukungan atas Agenda Kelautan Indonesia.
Pada akhir November lalu, PM Denmark Lars Lokke Rasmussen dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menandatangani persetujuan hibah senilai Rp11,8 miliar.
Melalui Dana Perwalian Laut, Sampah Laut dan Sumberdaya Pesisir atau OMC MDTF yang dikelola oleh Bank Dunia, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mendapatkan dukungan strategis untuk keseluruhan Agenda Kelautan Indonesia.
“Kebanyakan sampah di laut berasal dari limbah yang tidak dikelola dengan baik di kota-kota besar di daerah pesisir seperti Jakarta, maka terdapat tantangan yang signifikan dalam pengelolaan sampah di daerah tersebut. Denmark telah bekerjasama dengan Indonesia dalam memperbaiki pengelolaan limbah padat, termasuk teknologi konversi limbah ke energi,” papar Kristensen.

Jakarta terjunkan 4150 pasukan untuk atasi sampah tiap hari
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji menceritakan sebelum tahun 2012, sebanyak 70 ton sampah tersangkut di Pintu Air Manggarai setiap harinya. Kala itu, sebanyak 5-8 truk bekerja membawa sampah ke pembuangan akhir.
Namun kini, dengan ribuan pasukan Dinas Kebersihan yang turun di ruas-ruas sungai Jakarta, jumlah sampah yang masuk ke Pintu Air Manggarai pun berangsur-angsur menurun.
“Saat ini 4.150 pasukan oranye bekerja dengan 30 kapal pembersih sampah di Kepulauan Seribu setiap harinya. Hasilnya jumlah sampah yang tersangkut di sini tidak lebih dari 10 meter kubik atau sekitar satu truk sampah,” kata Isnawa.
Tidak hanya itu, Isnawa menambahkan, banyaknya alat berat yang ditambah dan ditempatkan di ruas-ruas sungai juga memberi dampak percepatan pengatasan masalah sampah.
“Saat ini ada 100 alat berat di seluruh ruas sungai. Waduk dan danau di Jakarta sudah berubah dibanding 10 tahun lalu. Kami berharap nantinya Waduk Cincin dan Waduk Rawa Dongkel bisa jadi tempat wisata,” ujar Isnawa.
news_share_descriptionsubscription_contact



