Pizaro Gozali İdrus
30 Januari 2018•Update: 31 Januari 2018
Pizaro Idrus
JAKARTA
Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar pertemuan soal Suriah untuk mencari solusi dari konflik yang berkepanjangan.
Ketua MUI Bidang Luar Negeri Muhyiddin Junaedi menyampaikan acara ini akan digelar usai perhelatan Ijtima Ulama pada bulan Maret mendatang.
“Kami ingin memberikan penjelasan komperhensif soal peran Jakarta atas konflik di Timur Tengah karena Indonesia punya peran strategis dalam skala global,” ujar Ketua MUI Bidang Luar Negeri Muhyiddin Junaedi kepada Anadolu Agency di Jakarta, Selasa.
Dalam kegiatan ini, sejumlah pihak terkait akan hadir, di antaranya Duta Besar Suriah, Menteri Luar Negeri, ormas Islam, pemerhati Timur Tengah dan lembaga kemanusiaan Indonesia yang telah berkiprah di Suriah.
“Kami ingin meminta penjelasan dari Dubes karena ada pihak oposisi yang aspirasinya juga harus diterima dan didengar,” jelas Muhyiddin.
MUI juga ingin mengetahui lebih jauh kontribusi yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia dalam menciptakan perdamaian di Suriah. Mengingat konferensi soal Suriah juga tengah berlangsung di Sochi, Rusia.
“Masyarakat Indonesia secara umum melihat Suriah sudah hancur, padahal ada di beberapa daerah masih aman. Kita ingin mencari perdamaian seperti apa yang diinginkan,” jelas Muhyiddin.
Menurut Muhyiddin, MUI sudah memiliki sikap jelas terkait konflik di Suriah.
Muhyiddin menyampaikan jika pihak oposisi hendak menggantikan rezim, seyogyanya hal itu dilakukan dengan cara-cara konstitusional.
“Pemerintah dan oposisi Suriah harus duduk bersama secara dialogis untuk mencari perdamaian,” jelas Muhyiddin.
MUI akan menyampaikan sejumlah rekomendasi dari hasil pertemuan ini.
Perang sipil meletus di Suriah pada awal 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menindak demonstrasi pro-demokrasi secara keras.
Sejak saat itu, ratusan ribu jiwa tewas dalam konflik, dan lebih dari sepuluh juta lainnya terpaksa mengungsi.