Erric Permana
22 September 2017•Update: 24 September 2017
Erric Permana
JAKARTA
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto melaporkan kepada Presiden RI Joko Widodo, Jumat, tentang keuntungan yang didapat Indonesia dari rencana pembelian 11 unit pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia.
Salah satu keuntungan yang diperoleh Indonesia adalah alih teknologi pesawat canggih tersebut. Menteri Wiranto menyebutkan bahwa Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun pabrik suku cadang pesawat tempur Sukhoi di tanah air.
“Sehingga kita menjadi pusat pemasaran Sukhoi di wilayah Asia,” kata Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Keuntungan lainnya adalah Indonesia akan melakukan imbal dagang dengan Rusia yakni membayar setengah dari harga Sukhoi SU-35 dengan 17 komoditas yang dimiliki Indonesia.
“[Pembayaran Sukhoi ini] bisa dibayar pakai peralatan perang [dari industri strategis], seragam, dan jaket anti peluru,” jelas kata Wiranto.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pernah menyatakan kalau Indonesia banyak memiliki keuntungan dengan membeli Sukhoi, misalnya Indonesia bisa melakukan pemeliharaan tanpa harus dikirim ke Russia. Bahkan negara Asia lainnya yang memiliki pesawat Sukhoi akan melakukan pemeliharaan di Indonesia.
“Selain itu kita diberi keleluasaan untuk membuat pemeliharaan MRO di sini jelas, transfer teknologi, tidak usah lagi di bawa ke Russia itu jauh dan mahal. Yang punya Sukhoi di Asia ini dua, Malaysia dan Vietnam jadi dari pada mereka tidak perlu jauh-jauh lagi, jadi mereka bisa servis di sini juga, jadi ada nilai tambah lagi,” kata Ryamizard
Seperti yang diberitakan sebelumnya Indonesia akan membeli 11 unit Sukhoi SU-35 milik Rusia. Pembelian pesawat Rusia ini akan ditukar dengan sejumlah produk ekspor Indonesia seperti kopi, teh dan kelapa sawit.
BUMN Rusia, Rostec dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama tersebut saat Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita ke Moskow 3-5 Agustus 2017.
Menurut Wiranto pembelian 11 Sukhoi SU-35 dari Pemerintah Rusia itu juga akan penguatan diplomasi internasional dengan negara tersebut.
“Walaupun kemungkinan perang itu tipis, tetapi untuk menjaga wilayah kedaulatan kita perlu penguatan alutsista [alat utama sistem persenjataan]. Termasuk penguatan bargaining dalam hal diplomasi internasional,” ujar Wiranto.
Menurutnya, pengalaman Indonesia mengalahkan negara lain pernah terjadi pada 1961 lalu ketika melawan Belanda. Saat itu, Indonesia memiliki alutsista yang cukup mumpuni dengan dukungan dari Uni Soviet.
“Waktu kita merebut Irian Barat itu juga kita perlu kekuatan yang besar untuk bargaining position,” tambahnya.
.