Nicky Aulia Widadio
19 Februari 2019•Update: 19 Februari 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) meluncurkan Jejaring Indonesia Rendah Emisi (JIRE) untuk mendukung upaya pemerintah mencapai target pengurangan emisi nasional.
Pendiri JIRE dari Yayasan Mitra Hijau Dicky Edwin Hindarto mengatakan JIRE akan menjadi wadah bagi pemerintah dan non pemerintah untuk mengkaji kebijakan serta implementasi pembangunan rendah karbon.
Jejaring ini juga akan menjembatani informasi seperti pendanaan, penyediaan fasilitas untuk infrastruktur dan pengembangan teknologi berkelanjutan.
Pasalnya selama ini, banyak peluang investasi yang tidak tersalurkan akibat informasi yang tidak tertampung dalam satu platform.
“Semua informasi ini akan kami kelola sehingga nanti bisa ketemu bukan hanya investasi, tapi teknologi apa yang paling tepat, dan kegiatan apa yang bisa dicontoh,” kata Dicky di Jakarta, Selasa.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah Indonesia membutuhkan dukungan semacam jaringan ini untuk mencapai target pengurangan emisi nasional.
“JIRE akan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah untuk mengimplementasikan pembangunan rendah karbon,” kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Christiana Figures mengatakan kerja sama lintas sektor merupakan hal mendasar untuk mencapai target Kesepakatan Paris tentang perubahan iklim.
Peluncuran JIRE, kata dia, menunjukkan kolaborasi yang lebih kuat dan memastikan Indonesia sebagai pemain utama mewujudkan capaian udara dan energi bersih.
“Sekarang ada peluang nyata bagi Indonesia memperkuat perencanaan pembangunan rendah karbon,” kata Christine.
Indonesia berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dan hingga 41 persen jika dengan dukungan internasional.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga tengah mempersiapkan penerapan pembangunan rendah karbon pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.
Melalui pembangunan rendah karbon, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat tanpa mengorbankan kualitas lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam.