Erric Permana
24 Januari 2018•Update: 25 Januari 2018
Erric Permana
JAKARTA
Presiden RI Joko Widodo berjanji akan membangun infrastruktur dan juga ketahanan pangan di Kabupaten Asmat, Papua.
Hal ini dilakukan menyusul terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di sana.
"Tahapan pertama adalah infrastruktur ini harus segera dirampungkan agar yang terisolasi bisa terbuka," ujar Joko Widodo di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada Rabu.
Presiden Joko Widodo mengaku dirinya telah bertemu dengan Gubernur Papua, Bupati Asmat, dan Bupati Nduga untuk membicarakan rencana relokasi terhadap warga agar tidak lagi terjadi kasus serupa.
Namun, berdasarkan hasil diskusi relokasi tidak mungkin dilakukan.
"Ternyata tidak memungkinkan karena masalah tradisi masalah adat, masalah hak ulayat," tambah dia.
Itu sebab, untuk memecahkan masalah, pada malam tadi Gubernur Papua, Bupati Asmat, dan Bupati Nduga setuju agar warga tidak berpindah-pindah tempat dan membangun pertanian di sana.
"Sehingga mereka bisa menetap. Kalau sudah menetap ini gampang," jelas Joko Widodo.
Masalah lain, Presiden Joko Widodo menyatakan banyak warga di pelosok Papua itu yang tidak mau diberikan vaksin. Padahal, kata dia, anggaran kesehatan di sana sangat besar.
"Sudah cukup besar. Sepuluh persen itu cukup besar, tapi memang untuk mengimplementasikan di lapangan tidak semudah yang kita bayangkan," ucap Jokowi.
Gubernur Papua pun, kata presiden, telah melakukan sosialisasi dan pendekatan terhadap warga agar mau diberi vaksin.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan telah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri memberikan bantuan kepada warga yang terkena dampak KLB Cacar dan gizi buruk.
Sebelumnya, akibat imunisasi tidak optimal, campak dan gizi buruk melanda suku Asmat di Distrik Agats, Papua.
Akibatnya, sejak September 2017, sekitar 60 anak meninggal dunia.