İqbal Musyaffa
19 Desember 2018•Update: 20 Desember 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Cepatnya perubahan dunia dan perkembangan teknologi dan inovasi mengubah cara bisnis masyarakat sehingga konsep ruang kantor bersama (Co-Working Space) semakin berkembang di Jakarta.
Direktur Riset Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan Internet of Things (IoT) telah berperan mengubah tempat kerja dan kantor di masa depan.
Pesatnya perkembangan generasi Milenial menurut dia, juga turut mengubah tren perkantoran.
“Tidak seperti generasi Baby Boomer & Gen-X, Milenial dikenal karena afinitas dengan teknologi dan keinginan yang kuat untuk fleksibilitas dan kehidupan kerja yang seimbang,” jelas Anton dalam diskusi di Jakarta, Rabu.
Milenial, menurut dia, menjadi generasi yang paling terdidik dan juga menyadari pentingnya pengakuan dalam kemampuan mereka untuk unggul dan berkembang dengan baik di jalur karier profesional.
“Milenial mengharapkan perusahaan tempat mereka bekerja menawarkan lingkungan kerja yang kondusif secara reguler yang memungkinkan mereka bisa berkembang dan terus belajar,” urai Anton.
Anton juga mengatakan generasi milenial memiliki kecenderungan untuk berkolaborasi, keterlibatan kerja dengan teman sebaya, dan keseimbangan kehidupan kerja.
“Tempat kerja ideal bagi mereka melampaui bilik meja pada kantor konvensional,” imbuh dia.
Berdasarkan studi dari berbagai lembaga termasuk Millennial Branding dan Identified, lanjut Anton., menunjukkan bahwa generasi milenial lebih suka kewirausahaan dari generasi sebelumnya.
“Jabatan pekerjaan eksekutif di perusahaan multinasional tidak lagi menggairahkan sebagian besar dari mereka, karena mereka ingin mengejar karier sebagai pemilik bisnis dan pengusaha,” ungkap Anton.
Dengan pemikiran ini, lanjut dia, membuat usaha kecil dan start-up tumbuh secara eksponensial di tahun-tahun mendatang.
Jumlah perusahaan start-up di Indonesia menurut Anton, diproyeksikan tumbuh 6,5 kali hingga mencapai angka 13.000 perusahaan pada tahun 2020.
Dengan asumsi bahwa setiap bisnis terdiri dari 5 karyawan yang masing-masing membutuhkan 15 meter persegi ruang kerja, maka sekitar satu juta meter persegi ruang kantor akan dibutuhkan oleh bisnis ini pada tahun 2020.
“Karena ruang kerja menjadi semakin multigenerasi dan skala perusahaan berbeda, kami berpendapat bahwa kantor berbasis satu ukuran cocok untuk semua (one size fits all) akan menjadi tidak efektif,” ujar Anton.
Pengembang dan investor menurut dia, harus mengeksplorasi tren kantor masa depan berupa tempat kerja bersama (Co-Working Space), kantor layanan (Serviced Offices), small office home office (SOHO), dan tempat kerja berbasis aktivitas.
Jakarta menurut dia, tampaknya telah mulai mengadopsi tren ini, karena Savills Indonesia mencatat ada sekitar 18.000 meter persegi co-working space, 30.000 meter persegi serviced offices, dan 200.000 meter persegi kantor tipe SOHO.
“Diperkirakan bahwa semua ini tidak akan cukup untuk mengakomodasi tingkat permintaan yang terus meningkat hingga tahun 2020,” tambah Anton.
Para operator dari jenis-jenis kantor ini menurut dia, harus dianggap sebagai kelas baru penyewa yang mungkin menempati berbagai jenis properti.
“Pengembang dan investor juga harus memperhitungkan kecenderungan ini kemungkinan menjadi alternatif yang menonjol di pasar perkantoran Jakarta yang sedang melemah,” pungkas dia.