Nicky Aulia Widadio
19 Desember 2018•Update: 20 Desember 2018
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan tidak ada rencana aksi teror yang terdeteksi pada perayaan Natal dan Tahun Baru 2019 mendatang.
“Tidak ada rencana serangan teror Natal dan Tahun Baru. Belum ada. Tapi kita akan terus monitor,” kata Kapolri Jendral Tito Karnavian di Jakarta, Rabu.
Pengamanan terhadap ancaman teror, kata Tito, tetap menjadi prioritas nomor satu pada pelaksanaan Natal dan Tahun Baru.
“Prioritas kita nomor satu adalah ancaman teror, karena dulu pernah tahun 2000 dan 13 Mei 2018 ada serangan terhadap gereja di Surabaya. Kita sudah lakukan langkah-langkah antisipasi,” ujar dia.
Tito menuturkan selama 2018 kepolisian telah menangkap sekitar 370 pelaku teror.
Selama November hingga Desember 2018, Polri menangkap dan memproses hukum 21 pelaku teror.
Penangkapan terjadi di sejumlah provinsi, yakni Sumatra bagian utara, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jambi.
Dua orang di antaranya ditangkap setelah kembali dari Suriah, sambung Tito.
Untuk pengamanan selama Natal dan Tahun Baru, Polri melibatkan TNI, pemuda gereja, dan relawan dari organisasi masyarakat seperti Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor.
Detasemen Khusus (Densus) 88 juga memonitor dan mendeteksi potensi ancaman.
“Kita melakukan langkah-langkah yang kita anggap potensial untuk menjamin agar masyarakat yakin bahwa serangan teror tidak ada,” ujar Tito.
Pihak kepolisian, sambung Tito, juga memprioritaskan masalah kejahatan konvensional seperti copet, jambret, hingga calo pada pengamanan Natal dan Tahun Baru.
“Saya sudah perintahkan kepada seluruh Kapolda dan Kapolres laksanakan, bersihkan sehingga masyarakat nyaman masuk ke tempat publik,” kata dia.