Shenny Fierdha
11 September 2017•Update: 12 September 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Peneliti politik internasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Riefqi Muna memetakan 2 motivasi yang membuat seseorang bergabung dengan al-Dawla al-Islamiya al-Iraq al-Sham (Daesh).
Motivasi itu adalah motivasi personal, misalnya untuk mendapatkan uang dan makanan, dan serta motivasi ideologi, yaitu keinginan seseorang untuk lebih mendalami Islam namun malah terjerumus ke pemahaman yang keliru.
"Ada juga yang ikut Daesh untuk membersihkan diri dari dosa yang telah diperbuat, terutama mereka yang merasa telah berbuat banyak dosa dalam hidupnya," kata Riefqi, dalam seminar bertajuk Jejaring ISIS: Tantangan Regional dan Global, Senin, yang diselenggarakan oleh LIPI dan Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), di Jakarta.
Riefqi menekankan pentingnya pemahaman agama yang baik untuk mencegah orang terjerumus terorisme.
“Agama mengajarkan kemanusiaan dan kasih sayang, bukan mengkafirkan orang lain,” ujarnya.
Riefqi menyayangkan soal pesantren yang dijadikan tempat cikal-bakal tumbuhnya benih terorisme di Indonesia. Menurutnya, tidak semua pesantren mengajarkan ilmu agama yang sesat atau menyimpang.
"Ada ribuan pondok pesantren tersebar di seluruh Indonesia, tapi yang berkaitan dengan terorisme hanya hitungan jari, tidak seluruhnya."
Selain pemahaman agama yang baik, menurutnya, negara juga harus hadir bagi warganya. Menjamin stabilitas serta mengembangkan ekonomi. Sebab terorisme kerap muncul di negara-negara yang secara ekonomi tidak stabil.
“Di negara seperti itulah kelompok teroris cenderung mendekati masyarakat dan memprovokasi mereka untuk menyalahkan pemerintah atas kesulitan ekonomi yang mereka alami. Sehingga banyak di antara masyarakat kemudian memutuskan bergabung dengan kelompok teroris dan melawan pemerintah,” katanya.
Riefqi juga menilai wujud terorisme sekarang cenderung bersifat transnasional atau bahkan internasional. Berbeda ketika era pemerintahan Soeharto dulu, aksi terorisme dilakukan oleh kelompok teroris lokal.
"Misalnya pengeboman Candi Borobudur Jawa Tengah pada 1985. Itu pelakunya kelompok teroris lokal," kata Riefqi.
Senada dengan Riefqi, Direktur Eksekutif IMSES Ryantori mengatakan bahwa faktor kemiskinan mendorong individu turut serta dalam aksi terorisme. Meski begitu, katanya, kemiskinan bukanlah faktor utama.
"Imam Al-Ghazali [tokoh keagamaan Persia abad ke-11] pernah mengatakan bahwa kemiskinan bisa menjerumuskan seseorang menjadi kafir. Sebab kemiskinan membuat kita terpuruk pada hal buruk dan membenci ketetapan Tuhan," kata Ryantori.
Merujuk pada hasil studi David Cortright dan George Lopez, kata Ryantori, terdapat 2 pendekatan penanganan terorisme yaitu tactical counterterrorismdan strategic counterterrorism.
Tactical counterterrorism berfokus pada pendekatan militer dalam memerangi terorisme. Sementara strategic counterterrorism menekankan pendekatan, taktik, dan strategi non militer dalam pembuatan kebijakan dan program melawan terorisme.