Muhammad Nazarudin Latief
01 Februari 2019•Update: 02 Februari 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha mendesak warga di Bangkok meninggalkan mobil mereka dan menggunakan angkutan umum, karena masalah kabut asap yang melanda ibu kota disebabkan oleh kendaraan.
"Jika mereka dapat menggunakan kendaraan lebih sedikit, mereka harus melakukannya," kata perdana menteri. "Mereka mungkin juga mempertimbangkan naik kereta listrik atau bus."
Jenderal Prayut menunjukkan bahwa partikel debu halus sebagian besar diproduksi oleh pembakaran pada mesin kendaraan.
Perdana menteri juga sedang mempertimbangkan larangan jalan bagi kendaraan yang sudah berusia lebih dari 10 tahun. Namun masalah itu harus dipertimbangkan matang-matang karena menyangkut kepentingan banyak orang.
"Itu tidak berarti bahwa kendaraan tua tidak memenuhi syarat. Konteks negara perlu diperhitungkan," kata Jenderal Prayut.
"Masalah [kabut asap] sebagian besar berasal dari kendaraan. Sekitar 8.000-9.000 kendaraan diperiksa setiap hari dan stiker ditempatkan pada mereka yang menghadapi larangan," kata perdana menteri, merujuk pada inspeksi truk dan bus yang dimulai baru-baru ini.
Menurutnya, pos pemeriksaan didirikan pada enam rute utama menuju Bangkok untuk menyaring truk dan bus yang datang dari provinsi lain.
Dia mengakui bahwa dia harus melangkah hati-hati sebelum mengumumkan langkah-langkah yang akan menjadi perhatian kendaraan.
Sementara itu pengguna Facebook dan blogger 'Yannapat Boonkate' meminta pada grup 'Bangkok Spray-In" menggunakan botol semprot pribadi pada siang hari pada hari Sabtu dan pada Minggu jam 6 sore.
Panggilan media sosial untuk bertindak disertai dengan foto seorang pria dalam topeng wajah yang menyemprotkan kabut dari botol kecil.
"Kurangi debu di seluruh Bangkok," kata pos itu.
Pada awal Jumat, 14.130 pengguna Facebook telah berjanji untuk muncul. Peta terlampir menunjukkan peserta harus bertemu di gedung-gedung parlemen lama dekat bekas Kebun Binatang Dusit di Jalan Ratchawithi.