Pizaro Gozali İdrus
28 Februari 2018•Update: 01 Maret 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Korban Bom Bali I Chusnul Chotimah mengharapkan perhatian besar Pemerintah terhadap kondisi fisiknya yang cacat permanen.
Chusnul mengaku ekonominya sangat terpuruk sejak peristiwa Bom Bali pada 12 Oktober tahun 2002.
Padahal dia adalah single parent yang menanggung tiga orang anak.
“Saya minta pemerintah membantu masalah kesehatan agar dimudahkan mendapatkan pelayanan di rumah sakit, jangan dipersulit,” ujar Chusnul dalam temu mantan narapidana teroris dan korban di Jakarta, Rabu.
Chusnul mengaku sudah 15 tahun membiayai pengobatan sendiri tanpa bantuan pemerintah.
Perjuangan untuk mendapatkan hak kesehatan membawanya berkirim surat kepada Presiden Joko Widodo selama dua tahun berturut-turut.
Presiden Joko Widodo akhirnya memberikan Kartu Indonesia Sehat (KIS) pada bulan Juni 2017.
Namun sayang, ujar Chusnul, KIS miliknya belum bisa digunakan karena ditolak oleh rumah sakit.
“Alasannya karena saya mau suntik keloid. Katanya, kalau keloid masuknya kecantikan, tidak ke KIS,” ujar warga Bali ini.
Chusnul juga berharap Pemerintah memberikan asuransi kepada anak-anaknya karena mereka juga butuh pengobatan.
Chusnul sempat bernapas lega saat mendapatkan buku hijau pengobatan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) datang.
Namun Chusnul menyayangkan bantuan tersebut tidak permanen karena harus diperpanjang tiap enam bulan.
“Saya korban cacat seumur hidup, pengobatan seharusnya seumur hidup,” terang Chusnul.