Shenny Fierdha
JAKARTA
Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigadir Jenderal Didi Agus Mintadi mengatakan kondisi 47 jenazah korban kebakaran di pabrik kembang api Kosambi, Tangerang, yang masuk ke ruang autopsi sangat memprihatinkan hingga sangat sulit dikenali.
"Kalau dibandingkan dengan jenazah korban kebakaran KM Zahro Express yang menuju Pulau Tidung pada awal tahun 2017, ini lebih sulit," kata Didi.
Sejauh ini, Didi mengatakan, pihaknya sudah didatangi oleh 11 keluarga korban dengan tujuh orang anggota keluarga yang telah diambil sampel DNA.
Mengingat kondisi jenazah yang memprihatinkan itu, kata Didi, proses identifikasi korban dipastikan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu.
Beberapa jam setelah api di pabrik dipadamkan, polisi telah menetapkan RS Polri Kramat Jati sebagai posko untuk keluarga korban yang mencari kerabatnya yang tewas dalam insiden ini.
Didi memastikan, timnya akan siaga menerima kedatangan keluarga korban. "Posko buka 24 jam," kata dia.
Keluarga mulai serahkan data pribadi korban
Sejak petang, keluarga korban kebakaran pabrik kembang api milik PT Panca Buana Cahaya Sukses itu mulai berdatangan ke rumah sakit untuk melapor dan memberi data guna mempermudah proses identifikasi.
Suryadi (42) dan Iwan (35), kerabat dari Sani (35) dan Zuroh (37) yang diduga tewas di dalam pabrik, turut menyerahkan data-data yang mereka miliki tentang kedua korban kepada tim forensik.
Sani dan Zuroh merupakan kakak-adik yang bekerja di gudang mercon nahas yang baru beroperasi kurang dari dua bulan itu.
"Zuroh malah baru sepuluh hari bekerja di sana," kata Iwan.
Dia mengatakan, dirinya langsung mendatangi pabrik ketika mendengar insiden kebakaran itu. Iwan bercerita, sempat melihat asap tebal yang membumbung tinggi dari atas pabrik.
Ketika mendekati lokasi kebakaran, dia pun mengaku mendengar beberapa kali suara ledakan yang cukup besar.
"Ledakannya seperti ledakan bom, dan [asapnya] menggulung ke atas setinggi sekitar 10 meter. Itu ledakan yang paling dahsyat," kata Iwan.
Sesampainya di lokasi, dia dan sejumlah warga lainnya sempat berencana untuk membobol tembok gudang demi menyelamatkan pekerja yang masih terperangkap di dalam.
"Tapi polisi tidak memperbolehkan kita mendekat," kata Iwan.
Polisi melarang warga untuk memasuki komplek gudang dan meminta mereka menunggu di luar demi alasan keamanan.
"Mobil pemadam terlambat datang. Kebakaran jam 09.00 WIB tapi mereka baru datang sekitar jam 11.00 WIB," keluh Iwan.
Tidak ada firasat
Bicara tentang kedua kerabatnya itu, Iwan mengaku tidak mengalami firasat akan mendapat musibah.
“Saya mengobrol terakhir dengan korban sekitar seminggu sebelum kejadian. Seperti ngobrol biasa saja," kata Iwan.
Hal serupa pun disampaikan oleh Suryadi, suami Zuroh.
"Biasa saja, tidak ada firasat. Saya mengantar dia tiap berangkat kerja," kata Suryadi.
Pada kedatangannya ke RS Polri malam ini, Suryadi selain membawa data lengkap tentang istrinya dia juga mengajak salah satu anaknya untuk diambil DNA.
"Saya membawa surat nikah, KTP, Kartu Keluarga, juga foto anak dan istri. Sampel [DNA] anak saya sudah diambil. Petugas RS bilang ke kami, akan diinformasikan 1-2 hari lagi," kata Suryadi.
Ketika ditanya apakah dia akan menuntut pemilik pabrik, Suryadi mengaku belum bisa memastikan.
Dia mengatakan, hingga saat ini, pihak keluarganya dan keluarga korban lainnya masih akan merundingkan langkah berikut yang akan ditempuh terhadap perusahaan tempat istrinya bekerja itu.
"Belum ada pikiran mau menuntut ganti rugi. Yang penting saya cari istri saya dulu," kata Suryadi.
Saat ini, pabrik petasan yang beralamat di Jalan Raya SMPN 1 Kosambi Desa Belimbing RT 20 RW 10 Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang itu telah ditutup oleh polisi. Kebakaran diketahui melalap pabrik sekira pukul 09.00 WIB dan api baru berhasil dipadamkan pada pukul 12.00 WIB, setelah mengerahkan 11 unit mobil pemadam.
news_share_descriptionsubscription_contact



