Shenny Fierdha Chumaira
15 Mei 2018•Update: 16 Mei 2018
Shenny Fierdha
JAKARTA
Polisi mengungkapkan bahwa Budi Satrio, salah satu terduga teroris yang ditembak mati di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin, bertugas sebagai pengumpul dana kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) cabang Surabaya.
Budi yang sehari-harinya mencari uang dari meracik sabun cair dan menjualnya itu terpaksa ditembak mati karena berusaha melawan saat dibekuk oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror di kediamannya di Puri Maharani, Masangan Wetan, Sukodono, Sidoarjo.
"Dia berperan sebagai penampung dana yang digunakan oleh JAD [Jamaah Ansharut Daulah] Surabaya. JAD Surabaya itu ketuanya adalah Dita, yang melakukan bom bunuh diri di salah satu gereja Surabaya pada Minggu," terang Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Negara Republik Indonesia Inspektur Jenderal Setyo Wasisto saat memberikan konferensi pers di Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jakarta, Selasa.
Dia juga menampilkan sejumlah foto barang bukti dan tempat kejadian perkara dari rumah Budi yang salah satu fotonya menunjukkan puluhan botol plastik dan stoples yang diduga berisikan bahan kimia pembuat bom.
Walau demikian, dia tidak bisa merinci berapa dana yang berhasil dikumpulkan oleh Budi.
"Masih didalami berapa dananya. Dana kemungkinan berasal dari sesama anggota, mungkin," kata Setyo.
Selain Budi, polisi juga menembak mati satu lagi terduga teroris yang juga sama-sama anggota JAD Surabaya bernama Wicang.
"Wicang ini dititipkan bom oleh Dita [Ketua JAD Surabaya] dan diserahkan kepada Tri [pelaku bom bunuh diri di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya]. Diduga, Wicang, Dita, dan Tri sudah siap melakukan aksi bom bunuh diri," jelas Setyo.
Namun dia tidak menjelaskan peran detail Wicang dalam kelompok teroris ini.
Meski polisi menyita sejumlah komponen bom seperti pipa, bahan kimia, serta bom yang sudah jadi dan siap ledak, namun Setyo tidak memberikan angka pasti berapa bom jadi dan komponen bom yang disita.
"Pokoknya banyak, dan masih ada yang berupa komponen," tukas Setyo singkat.
Pada Minggu pagi, Dita, istrinya Puji Kuswati, dan empat anaknya yakni Fadhila Sari, Pamela Riskita, Yusuf Fadil, dan Firman Halim, melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Arjuno, dan Gereja Diponegoro, Surabaya, dan menewaskan 18 orang termasuk mereka berenam.