Megiza Soeharto Asmail
10 Januari 2018•Update: 10 Januari 2018
Megiza Soeharto Asmail
JAKARTA
Jutaan cyber attack atau serangan siber dipastikan mencoba masuk ke jejaring Indonesia setiap harinya. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memastikan itu lewat tools yang dipantaunya langsung setiap hari.
“Indonesia selalu masuk menjadi 10 besar negara target serangan siber yang kebanyakan adalah malware,” kata Rudiantara dalam wawancara khusus dengan Anadolu Agency.
Menteri Rudi mengatakan, meski berhasil mendeteksi jutaan serangan tersebut, pihaknya belum dapat membedakan apakah serangan itu berupa proxy atau bukan. Dia mengilustrasikan serangan siber bak permainan karambol.
“Kalau dari Amerika Latin, yang terkenal itu dari Brazil yang mengirim. Dia nyerang ke Tiongkok, dari Tiongkok ke Indonesia. Nah, apakah yang dari Tiongkok itu benar-benar dari sana, atau ini dari Brazil. Jangan-jangan Tiongkok dipakai proxy, atau Indonesia dipakai proxy untuk menyerang negara lain,” kata Menteri Rudi.
Banyaknya serangan itu, kata dia, menjadi alasan pemerintah membuat Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Sebenarnya, ujar Menteri Rudi, penanganan masalah siber sudah ada di beberapa kementerian sejak lama. Di Kemenkominfo, permasalahan ini ditangani oleh Direktorat Keamanan. Begitupun di Kementerian Pertahanan.
“Tapi ini tidak cukup karena berjalan masing-masing. Kita butuh yang terkoordinir, butuh pendekatan yang lebih komprehensif,” sebut Menteri Rudi.
Lebih jelas, dia berujar, meski BSSN sudah dibentuk, kementeriannya juga telah memiliki ID SIRTII yakni Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure untuk memaksimalkan proteksi terhadap jaringan internet di Indonesia.
“Mereka yang di ID SIRTII itu bukan PNS. Mereka orang-orang ahli. Tugasnya adalah memproteksi masyarakat. Tapi sebenarnya, masalah ini juga menjadi tugas yang harus diperhatikan masyarakat, karena di Indonesia pemikiran atau konsern terhadap cyber security masih rendah,” tukas Menteri Rudi.