Megiza Asmail
JAKARTA
Deretan tiang penyangga jalur tol di Jalan Ahmad Yani telah berhiaskan gambar warna-warni sejak kemarin. Kompetisi mural terbesar yang digelar selama empat hari sejak Sabtu hingga Selasa itu kini menyisakan pemandangan yang menarik bagi warga yang melintas di Kawasan Rawamangun, Pulomas dan Sunter.
Semangat menyambut belasan ribu atlet dari 45 negara yang berpartisipasi pada Asian Games ke-18 sangat terasa di kawasan tersebut. Alasannya, sebanyak 73 tiang telah dilukis dengan tema-tema energi olahraga oleh ratusan muralis.
Tak hanya menyajikan gambar-gambar dengan gelora sport, namun para muralis juga mengkreasikan tema olahraga dengan budaya-budaya khas Indonesia. Salah satunya seperti yang diusung oleh muralis perempuan yang ikut berpartisipasi dalam kompetisi ini.
Susi Necklin, mahasiswi semester 3 jurusan Seni Murni, Institut Kesenian Jakarta, memadukan simbol salah satu cabang olahraga Asian Games dengan salah satu maskot ibu kota.
“Temanya memang tidak jauh dari Asian Games dan Jakarta. Saya dan teman-teman menggambar badak maskot Asian Games, olahraga tinju dan ondel-ondel, ya sekalian mengangkat salah satu budaya Indonesia,” kata Susi kepada Anadolu Agency di Jakarta, Rabu.
Bersama tiga teman kuliahnya, Susi telah menghabiskan waktu selama empat hari mendandani tiang tol, sejak pagi hingga petang di tengah keriuhan lalu lintas. Memang, untuk kompetisi ini, Susi dan kawan-kawan kurang beruntung karena tak berhasil membawa pulang hadiah.
Namun, sebuah pengalaman setidaknya telah dicecapnya dengan ambil bagian dalam lomba mural ini. Pengalaman yang dia maksud bukan lagi adu kreatifitas dengan ratusan muralis lainnya, namun sebuah sensasi menegangkan selama menghias tianglah yang pertama kalinya dia rasakan di sini.
“Posisi tiang yang dekat dengan busway [jalur TransJakarta] itu bikin kita syok. Ketika kita lagi berdiri sambil mikir ingin mengecat sisi ini, tiba-tiba bus TransJakarta lewat. Itu berasa banget anginnya, dan lumayan bikin syok,” cerita Susi sambil tertawa.
Dia menuturkan, jarak antara tiang dengan jalur TransJakarta yang tidak sampai dua meter membuat dia akhirnya tak bisa lama-lama meluangkan waktu mengimajinasikan warna. Sudah itu, meski ada dua pria dalam kelompoknya, Susi pun tetap kebagian mengecat di atas steger.
“Kita naik-naik steger saja rasanya itu sudah kayak bagaimana. Di tambah lagi rasanya setiap TransJakarta lewat, woh,” kenang dia.
Tantangan lain yang dialami para muralis dalam kompetisi ini, kata Susi, adalah ketika tidak mendapatkan cat berwarna kuning dan putih. Merekapun harus membuang waktu untuk menunggu kedua cat itu dipasok oleh panitia.
“Dari awal cat kuning itu susah banget. Warna kuning itu buat ngambil background. Dari kuning juga kan bisa jadi warna hijau dan oranye, itu susah banget. Warna putih juga lama,” tutur Susi.
Meski harus waswas tersambar bus yang melintas selama empat hari di kolong tol dan terkendala suplai cat, Susi dan teman-teman sepakat kompetisi ini memberi kesenangan tersendiri.
“Acara ini bagus banget, karena jadi ajang muralis nunjukin karyanya terang-terangan di tiang-tiang besar, itu kan jarang banget. Kedua, ya karena ini dibuat untuk menyambut ajang Asian Games,” sebut Susi.
Dalam kompetisi mural ini, dewan juri yang terdiri dari Hanafi (perupa), Bambang Asrini Widjanarko (kurator seni rupa) dan Seno Joko Suyono (wartawan senior seni budaya) akhirnya mengumumkan kelompok Cenderawasih Art dari Papua sebagai juara satu.
Berturut-turut di belakang kelompok yang mengangkat simbol Papua berpadu olahraga itu adalah kelompok Intermural dari Depok di juara kedua, kemudian Rumah Anak Bumi dari Parung dan kelompok Sekawan Solo.

Diapresiasi meski dilupakan
Founder Cikini Art Stage yang sekaligus Ketua Pelaksana Kompetisi CMNP Mural Competition, Aidil Usman, menjelaskan puluhan tiang tersebut sudah menjadi representasi semangat Asian Games.
“Kami memang ingin mengolaborasikan antara semangat olahraga dan budaya. Seniman ini mengambil ornamen nusantara dan simbol-simbol olahraga,” kata Aidil kepada Anadolu Agency, Rabu.
Aidil menyebut, tak hanya sebagai penyambut event olahraga dunia, tiang-tiang berselimutkan mural ini juga menjadi etalase estetika ruang kota. “Ini sama saja seperti galeri publik karena menampilkan 73 karya seni,” imbuh dia.
Berhasil menggelar kompetisi ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pun kata Aidil sempat menyampaikan apresiasinya. Malah, Kementerian PUPR rencananya akan menginisiasi 400 tiang lainnya untuk dihias melalui bentuk festival mural lainnya.
Meski mendapat dukungan penuh dan difasilitasi oleh PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, selaku operator jalan layang kawasan Rawamangun-Pulomas-Sunter, Aidil mengungkapkan bahwa gagasan kompetisi ini berawal dari para seniman yang merasa miris karena orang-orang yang menggerakkan event olahraga di Indonesia seakan tidak membutuhkan seniman dalam menyemarakkan gelaran besar seperti Asian Games.
“Kami sebagai seniman agak miris dengan penggunaan digital print [untuk promosi Asian Games]. Karena potensi seniman kita ini lebih banyak. Kalau produk digital print itu kan warnanya kan memuai, dan bagi kami itu hanya menambah polusi,” tutur Aidil.
Dia mencontohkan, Brazil dan China menjadi beberapa negara yang berhasil memanfaatkan dan menunjukkan seniman-senimannya untuk meramaikan acara olahraga seperti Olimpiade.
“Waktu Olimpiade di Brazil, para muralis itu membangun eksistensinya dengan seni. Di sini, orang olahraga seakan tidak membutuhkan seniman. Mungkin mereka alpa kalau ternyata di negeri ini punya potensi-potensi seni yang bisa dilibatkan,” ungkap Aidil.
news_share_descriptionsubscription_contact
