Hayati Nupus
17 September 2018•Update: 18 September 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pemerintah telah mengirim 2.400 unit kelambu antinyamuk untuk menangkal wabah malaria di Nusa Tenggara Barat.
Kasubdit Malaria Direktorat Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan RI, Nancy Dian Anggraeni mengatakan sebanyak 300 unit di antaranya dikirim ke Lombok Utara, 100 unit ke Lombok Timur dan 2.000 unit ke Lombok Barat.
“Kelambu 2.000 unit ini hasil relokasi dari Provinsi Sulawesi Selatan,” ujar Nancy, Senin, di Jakarta.
Nancy mengatakan pemerintah juga mengirimkan 18.000 tablet obat antimalaria.
Selain itu, ujar Nancy, pemerintah mengirim 5.000 rapid diagnostic test untuk digunakan pada survei pemeriksaan massal (Mass Blood Survey/MBS) yang digelar Kementerian Kesehatan terhadap 3.779 orang sepanjang 26 Agustus 2018-14 September 2018.
Nancy mengungkapkan terdapat 128 warga Lombok Barat yang positif terkena malaria.
Dari 10 kabupaten/kota yang ada di NTB, ujar Nancy, tiga di antaranya bebas malaria, yaitu Kota Mataram, Lombok Tengah dan Kota Bima.
Di Lombok Barat, kata Nancy, desa yang terjangkit malaria itu adalah Penimbung dan Meninting, Kabupaten Gunung Sari. Kejadian bermula ketika pemerintah menemukan dua kasus malaria di Puskemas Penimbung pada 26 Agustus 2018.
Jumlah kasus kemudian meningkat, menurut Nancy, hingga menjangkiti bayi. Oleh karena itu Bupati Lombok Barat menetapkan wilayahnya berstasus Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit malaria sejak 8 September 2018 lalu.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Sigit Priohutomo menambahkan pemerintah juga berupaya menangkal penyebaran malaria dari hulu, yaitu lewat intervensi lingkungan.
Pemerintah, kata Sigit, menyebarkan larvasida, zat pembunuh jentik nyamuk, ke sejumlah genangan air, sungai dan waduk di sekitar lokasi pengungsian.
“Supaya nyamuk yang masih larva tidak berkembang,” kata Sigit.
Sigit mengungkapkan, sejak gempa mengguncang NTB akhir Juli 2018 hingga kini, sejumlah penyakit mulai bermunculan menjangkiti warga.
Selain malaria, kata Sigit, terdapat lima penyakit lain yang perlu diantisipasi masyarakat pengungsi di NTB, yaitu diare akut, pneumonia, suspek campak, influenza dan suspek penyakit Hand Foot and Mouth Desease (HFMD), namun jumlah serta penyebarannya tidak signifikan.