27 September 2017•Update: 27 September 2017
Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Mantan tahanan teroris di kota Marawi, Filipina mengatakan sejumlah anak di sana terbiasa menyaksikan video-video penyiksaan dan pembunuhan. Beberapa dari anak-anak itu bahkan masih berumur 10 tahun.
Lordvin Acopia yang berprofesi sebagai guru diculik kelompok teroris Maute yang mengepung Marawi pada Mei lalu. Selama ditahan, Acopia dipaksa mengurusi kebutuhan medis teroris yang terluka.
Dia juga melihat anak-anak berusia 10 hingga 17 tahun turut berperang bersama kelompok Maute. Beberapa dari mereka mengikuti langkah kakak atau ayahnya.
"Mereka kadang-kadang menonton video orang yang lehernya digorok atau dibakar teroris," kata Acopia kepada GMA News, Selasa.
"Itu cara mereka menghabiskan waktu...menyaksikan video yang disebar Daesh."
Acopio berhasil diselamatkan militer Filipina pada 16 September.
Dia melihat setidaknya 17 anak-anak ikut bertempur untuk kelompok Maute dan Abu Sayyaf. Kedua kelompok itu berkoalisi dengan Daesh.
"Mereka ingin membuktikan diri," lanjut dia.
Dilaporkan sejumlah kecil teroris masih berada di Marawi, ibukota provinsi Lanao del Sur.