Shenny Fierdha
02 Oktober 2017•Update: 02 Oktober 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Tiga bendahara kelompok penyebar berita hoax dan ujaran
kebencian Saracen pada Senin kembali mangkir dari pemeriksaan yang dilakukan
oleh Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri).
Retno alias Mirda, Dwiyani, dan Riandi seharusnya memenuhi panggilan penyidik
pada Rabu pekan lalu (27/9) namun karena tidak hadir, maka dijadwalkan ulang
menjadi hari ini tapi kembali absen.
"Tiga-tiganya tidak hadir semua," kata Kepala Divisi Hubungan
Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto saat ditemui wartawan di Markas
Besar Polri di Jakarta, Senin.
Alasannya pun beragam: seorang di antaranya ada yang mengatakan sedang
sakit diare, sementara dua lainnya minta dijadwal ulang karena baru mengetahui
kabar soal penyidikan.
Namun Setyo tidak menyebutkan dengan spesifik siapa yang memberikan alasan
sakit maupun siapa yang meminta agar penyidikan dijadwal ulang.
Sementara itu, Setyo memastikan bahwa Ketua Saracen Jasriadi sudah selesai
menjalani pemeriksaan psikologis yang dilakukan oleh tim dokter Rumah Sakit
Bhayangkari Polri pada 20 September selama beberapa hari.
"Dari hasil observasi ahli psikologi, Jasriadi masih layak
mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Setyo.
Jasriadi menjalani pemeriksaan psikologis sebab ia kerap memberikan
jawaban yang berbeda-beda setiap ditanya penyidik.
Setyo menegaskan bahwa jika Jasriadi terus mempersulit proses penyidikan
dengan sikapnya yang kerap memberikan jawaban yang berbeda, maka ke depannya
proses hukum yang dijalani Ketua Saracen tersebut akan semakin berat.
Saracen sudah aktif membisniskan ujaran kebencian bernada suku, agama,
ras, antargolongan (SARA) dan berita hoax sejak didirikan pada
November 2015.
Mereka bahkan menawarkan jasanya yang dihargai Rp 70-100 juta dalam bentuk
proposal kepada para calon klien yang ingin menjatuhkan orang atau kelompok
tertentu.
Selain Jasriadi, polisi pun telah menetapkan tersangka lain yakni Ketua
Bidang Media Informasi Faizal Muhammad Tonong, Koordinator Wilayah Sri Rahayu
Ningsih, Pembuat grup Facebook Saracen, M. Abdullah Harsono, dan seorang ibu
rumah tangga Asma Dewi yang pernah mentransfer Rp 75 juta kepada Saracen.