Nicky Aulia Widadio
05 Agustus 2019•Update: 06 Agustus 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Sejumlah ulama dan tokoh Islam yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) menggelar Ijtimak Ulama keempat untuk membahas situasi dan kondisi setelah Pemilihan Presiden 2019.
Ijtimak keempat ini diselenggarakan di Sentul, Kabupaten Bogor, pada Senin.
Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua Umum GNPF Ulama Yusuf Martak, Ketua Umum Presidium Alumin 212 Slamet Maarif, Bernard Abdul Jabbar, Haikal Hassan, Ketua Umum FPI Sobri Lubis, serta mantan Penasehan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua.
Imam besar FPI Rizieq Shihab akan membuka pertemuan ini secara jarak jauh dari Mekkah, Arab Saudi.
Yusuf Martak mengatakan Ijtimak Ulama keempat ini akan menentukan langkah perjuangan dan pergerakan mereka selanjutnya, terutama terkait pelanggaran, kecurangan atau “pengkhianatan” dalam pemilu.
“Itu kita kembalikan kepada musyawarah yang akan kita laksanakan pada Ijtima Keempat ini,” kata Yusuf dalam konferensi pers di Sentul pada Senin.
Menurut Yusuf, pengkhianatan pemilu yang dimaksud merujuk pada kecurangan yang terjadi dalam Pemilu 2019 lalu.
Namun dia menegaskan pembahasan kali ini tidak lagi terkait dengan dukungan dalam kontestasi pemilu yang lalu.
Sebelumnya dalam Ijtimak Ulama pertama pada 27-29 Juli 2018 lalu di Jakarta, mereka merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden tunggal.
“Yang ingin saya garis bawahi, kami yang di GNPF Ulama, FPI, maupun PA 212 sudah menetapkan bahwa setelah Mahkamah Konstitusi memenangkan (pasangan calon) 01, bukan 02, kita tidak ada lagi dukungan dengan kontestasi pilpres,” kata Yusuf.
Hasil dari Ijtimak Ulama keempat akan mereka umumkan pada Senin sore.