Erric Permana
28 April 2021•Update: 29 April 2021
JAKARTA
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan meminta Presiden Joko Widodo membentuk tim independen untuk mengaudit seluruh alat utama sistem persenjataan (alutsista) tua yang dimiliki Indonesia.
Hal ini dilakukan menyusul tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan Bali.
Peneliti Imparsial Hussein Ahmad yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil mengatakan tim audit tersebut akan melibatkan masyarakat sipil dan para pakar untuk menentukan masih layak atau tidaknya alutsista yang dimiliki TNI.
"Yang tidak bisa dipungkiri kan umur kapal [KRI Nanggala-402] itu tidak bisa dibilang muda, tahun 1977 dibuat," ujar Hussein Ahmad kepada Anadolu Agency pada Rabu.
Dia juga mendesak pemerintah tidak menggunakan alutsista yang sudah berumur lebih dari 20 tahun hingga audit selesai.
"Satu hal penting yang selalu luput diperhatikan dari setiap kecelakaan alutsista adalah soal tata kelola perawatan dan pemeliharaan alutsista Indonesia," jelas dia.
Hussein Ahmad juga meminta pengadaan alutsista dan modernisasi dilakukan secara transparan dan akuntabel.
"Dalam praktiknya, beberapa kasus pengadaan alutsista selama ini bukan hanya menyimpang dari kebijakan pembangunan postur pertahanan, tetapi juga sarat dengan dugaan terjadinya korupsi," jelas dia.
Dia meminta pemerintah untuk menghapus pihak ketiga (broker) dalam pengadaan alutsista, karena memiliki risiko masalah yang tinggi pada kesiapan alutsista.
"Modernisasi alutsista perlu memperkuat alutsista dengan memprioritaskan pembelian alutsista baru dan bukan alutsista bekas," pungkas dia.
Sebelumnya, KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam setelah hilang kontak beberapa hari di perairan Bali.
Kapal selam buatan 1977 itu ditemukan terbelah menjadi tiga bagian di kedalaman 839 meter.
TNI Angkatan Laut meyakini tenggelamnya kapal itu lantaran adanya faktor alam.
Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal Laksda Muhammad Ali mengatakan tenggelamnya kapal selam diduga karena arus bawah laut yang cukup kuat sehingga bisa menarik secara vertikal.
Danseskoal Laksamana Muda TNI Iwan Isnurwanto mengatakan bahwa di perairan utara Bali menurut satelit Himawari-8 milik Jepang dan Satelit Sentinel milik Eropa, pada tanggal 21 April atau tanggal 20 UTC, terjadi internal wave yang bergerak dari bawah ke utara.
“Kalau kita terkena internal wave, maka itu adalah kehendak alam tentunya para prajurit tidak bisa melakukan peran kedaruratan walaupun mereka sudah siap berada di pos tempurnya masing-masing," jelas dia.
TNI AL membantah penyebab tenggelamnya kapal selam karena usia yang sudah tua.
Menurut Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal Laksda Muhammad Ali, kapal selam tipe 209 seperti KRI Nanggala-402 banyak digunakan oleh negara lain seperti India dan negara-negara Amerika Latin.
Usianya kata dia bisa digunakan hingga 40 tahun jika mendapatkan perawatan yang baik.
Bahkan dia menyatakan Brasil memiliki kapal selam berusia lebih tua dari KRI Nanggala-402.