Muhammad Nazarudin Latief,Nicky Aulia Widadio
22 Mei 2019•Update: 23 Mei 2019
Nicky Aulia Widadio, Muhammad Latief
JAKARTA
Polisi akan memeriksa lebih lanjut tewasnya enam orang dalam demonstrasi penolakan hasil rekapitulasi penghitungan suara Pilpres oleh pendukung pasangan calon presiden Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Rabu.
“Saya juga dapat laporan dari Kapusdokkes (Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigjen Arthur Tampi) ada enam meninggal,” ujar Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito dalam konferensi pers di Jakarta.
“Ada yang kena luka tembak, ada yang kena senjata tumpul. Harus kita clearkan sekali lagi di mana lokasi meninggalnya dan apa sebabnya.”
Sebelumnya Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Anies Baswedan memberikan keterangan ada enam orang korban tewas selama demonstrasi yang berlangsung sejak Selasa.
Para korban berada di sejumlah rumah sakit di Jakarta, seperti Rumah Sakit Tarakan, Rumah Sakit Pelni, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Budi Kemuliaan, dan Rumah Sakit AL Mintoharjo.
Polisi kata Jenderal Tito menemukan senjata-senjata di luar tangan TNI-Polri.
Jenderal mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini mengatakan ada kelompok yang berusaha menciptakan kemarahan publik dengan menciptakan martir pada aksi demonstrasi ini.
“Kita mendengar ada rencana penembakan terhadap massa, seolah-olah yang melakukan aparat sehingga timbul kemarahan publik,” ujar Jenderal Tito.
Sebelumnya pada Selasa, polisi mengamankan tiga orang yang dilengkapi senjata api dan dua dus amunisi.
Senjata itu, menurut Jenderal Tito akan digunakan dalam aksi yang menargetkan pejabat negara, aparat keamanan serta massa aksi untuk menciptakan martir.
“Pengakuan mereka sama, senjata itu akan digunakan pada 22 Mei, ujar Jenderal Tito, “Kita akan mendalami, kira-kira korban yang tertembak mungkin juga pelaku kerusuhan ini karena pada saat itu oleh aparat atau oleh pihak ketiga.
Menurut polisi, masa yang datang pada Selasa malam pukul 21.00 bukan lagi pengunjuk rasa karena mereka langsung melakukan aksi anarkistis dan menyerang petugas keamanan.
Menurut Jenderal Tito, “mereka sudah menciptakan kerusuhan, melakukan aksi kriminal.”
Kejadian ini jangan sampai dikerangka dengan narasi bahwa aksi damai dibubarkan dengan tindakan represif oleh aparat, ujar Kapolri.
“Itu tidak benar. Kita harap masyarakat tidak terpancing dengan situasi yang ada, tetap tenang, kita berusaha keras menetralisir situasi,” kata dia.