Nicky Aulia Widadio
20 Agustus 2019•Update: 20 Agustus 2019
JAKARTA
Sebanyak 258 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Sorong kabur dari tahanan setelah gedung lapas dibakar.
Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Ade Kusmanto mengatakan kejadian itu merupakan imbas dari aksi unjuk rasa di Sorong.
Aksi unjuk rasa pada Senin dipicu oleh insiden yang dihadapi mahasiswa Papua di Jawa Timur pada 17 Agustus 2019.
Menurut Ade, ada teriakan dari dalam lapas pada pukul 13.00 WIT yang dapat diredakan oleh petugas.
Namun sekitar pukul 16.15 WIT ada massa yang melempari batu dari samping lapas sehingga memprovokasi narapidana.
Narapidana yang mulanya membalas lemparan tersebut justru beralih menyerang petugas.
“Mereka melempari gedung dan memprovokasi penghuni lapas sehingga terjadi kerusuhan berujung perlawanan kepada petugas, pelarian dan pembakaran,” kata Ade kepada Anadolu Agency, Senin malam.
Sekitar pukul 17.00 WIT tembok di bagian kanan lapas dan jendela ruang registrasi dijebol dan menjadi titik sejumlah narapidana melarikan diri.
Petugas masih mengejar 258 napi yang kabur, sedangkan 289 orang napi lainnya masih berada di dalam lapas.
Satu orang petugas lapas terluka karena mencoba menghalangi narapidana yang memaksa keluar lapas.
“Dalam menghalau petugas bentrok fisik juga, tapi karena jumlah WBP (warga binaan pemasyarakatan) jauh lebih besar, petugas mundur,” lanjut Ade.
Ade mengatakan situasi di lapas telah berangsur kondusif pada Senin malam sekitar pukul 19.00 WIT.
Ditjen PAS, kata dia, telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk mencegah masuknya pihak-pihak yang memprovokasi ke sekitar lapas.