Hayati Nupus
18 Oktober 2019•Update: 21 Oktober 2019
JAKARTA
Sedikitnya enam orang tewas dan 53 lainnya terluka setelah gempa dangkal berkekuatan M 6,3 mengguncang Mindanao, Filipina.
Juru Bicara Dewan Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Mark Timbal mengatakan gempa juga mengakibatkan puluhan rumah roboh dan ratusan lainnya rusak, termasuk sekolah, seperti dikutip The Manila Times.
Di Tulunan, ujar Mark, seorang anak tewas dan dua lainnya terluka.
Sedang di Mlang, Cotabato, seorang warga meninggal karena serangan jantung.
Sejumlah bangunan di Daerah Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao juga rusak parah.
Kantor seismologi Filipina mencatat lebih dari 300 gempa susulan terjadi.
Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya (DPWH) mengerahkan tim untuk memeriksa jalan dan infrastruktur di daerah yang dilanda gempa.
Sekretaris DPWH Mark Villar mengatakan tim ini akan menilai kerusakan jalan, jembatan, perusahaan besar dan bangunan milik pemerintah demi memastikan keselamatan publik.
Berdasarkan laporan awal DPWH di Wilayah 12, semua jalan nasional di Soccsksargen seperti Cotabato Selatan, Cotabato, Sultan Kudarat, Sarangani dan Kota General Santos masih dapat dilewati.
Sementara itu, Asisten Sekretaris Transportasi Dewi Hope Libiran mengatakan laporan Otoritas Penerbangan Sipil Filipina menunjukkan bahwa ada panel kaca jendela Bandara Cotabato yang retak.
Sementara fasilitas penerbangan di Davao, Tambler, Laguindingan dan Butuan tidak mengalami kerusakan.
General Manager Otoritas Pelabuhan Filipina Jay Santiago mengatakan Pelabuhan General Santos tak mengalami kerusakan, tetapi otoritas menutupnya sementara untuk membuka jalan bagi pemeriksaan menyeluruh.
Presiden Rodrigo Duterte telah mengarahkan semua lembaga pemerintah terkait untuk membantu para korban gempa.
“Presiden telah mengarahkan badan-badan untuk membantu dengan cara apa pun untuk meringankan penderitaan orang-orang ini dan untuk merehabilitasi penduduk di Kota Cotabato,” kata juru bicara Istana Salvador Panelo.
Panelo menambahkan bahwa pemerintah nasional, melalui Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina, terus memantau situasi.
“Kami meminta masyarakat untuk tetap tenang namun waspada dan kami mendesak mereka untuk tidak menyebarkan disinformasi yang dapat menyebabkan banyak orang panik, dan stres,” kata dia.