Pizaro Gozali Idrus
10 Agustus 2020•Update: 11 Agustus 2020
JAKARTA
Otoritas Thailand terus memburu para demonstran yang ikut dalam gelombang demonstrasi anti Perdana Menteri Prayut Chan-ocha di sejumlah wilayah, lansir Khaosod pada Senin.
Di Provinsi Phitsanulok, pejabat negara berpakaian preman telah menahan enam pemimpin protes anti-pemerintah yang digerakkan oleh kelompok Brave Phitsanulok Will Not Bow to Dictators.
Gerakan sipil itu mengatakan lima anggotanya ditangkap dan digelandang petugas keamanan ke dalam hutan.
Anggota lain dilaporkan diinterogasi di asramanya oleh petugas keamanan.
Para petugas membawa mereka pergi dengan van sebelum menggeledah dan menyita telepon genggam para demonstran.
“Kami tahu kami akan menghilang, jadi kami meminta untuk menghubungi teman dan keluarga kami,” tulis kelompok itu.
Brave Phitsanulok Will Not Bow to Dictators, yang merupakan gerakan masyarakat sipil ini, menyampaikan para pemimpinnya dibawa dengan truk secara terpisah ke sebuah rumah di dalam hutan.
Selanjutnya, para pejabat menanyai mereka siapa donatur protes anti pemerintah, kata kelompok itu.
Petugas keamanan berpakaian preman juga menyambangi seorang anggota perempuan kelompok itu di asramanya sekitar pukul 12.30.
Petugas keamanan meminta demonstran tersebut tidak lagi terlibat aksi anti pemerintah.
Sejak Juli, gerakan anti pemerintah yang digerakkan para mahasiswa dan pemuda mendesak Prayut mundur.
Selain itu, para demosntran juga menuntut tiga hal yakni pembubaran parlemen, kebebasan berpendapat, dan mengamandemen konstitusi militer. Menurut aktivis konstitusi militer tersebut menjamin kemenangan partai Prayuth pada pemilihan umum 2019.
Pada Sabtu, lebih dari 1.000 orang melakukan protes di Bangkok setelah pengacara hak asasi manusia (HAM) Anon Nampa dan aktivis mahasiswa Panupong Jadnok ditangkap dan ditahan.