Devina Halim
23 Agustus 2021•Update: 24 Agustus 2021
JAKARTA
Amerika Serikat dan Singapura sepakat meluncurkan kerja sama dalam bidang iklim (US-Singapore Climate Partnership).
Kerja sama tersebut akan memperkuat kolaborasi kedua negara dalam bidang aksi iklim, tata kelola lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan solusi rendah karbon.
“Kemitraan ini akan menciptakan peluang bagi bisnis dan pekerja di sektor pertumbuhan hijau,” ungkap Kementerian Luar Negeri Singapura dalam keterangannya, Senin.
Adapun area kerja sama potensial di bawah kemitraan tersebut yakni keuangan berkelanjutan, transisi energi, pasar karbon berkualitas, serta konsultasi ahli misalnya dalam pengaturan standar hijau.
Singapura mengatakan perubahan iklim merupakan tantangan global dan prioritas utama bagi negaranya dan AS.
Singapura dan AS berkomitmen penuh untuk mengimplementasikan Perjanjian Paris (Paris Agreement) dan mengambil tindakan iklim yang berani.
“Kami sangat yakin bahwa keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan,” ungkap Singapura.
Selain itu, kedua negara juga akan terus menjajaki peluang kerja sama di lebih banyak bidang terkait perubahan iklim dan ekonomi hijau.
Pengumuman kerja sama di bidang iklim ini bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden AS Kamala Harris ke Singapura.
Harris berada di Singapura untuk kunjungan resmi selama tiga hari, di mana dia ingin memperdalam kerja sama bilateral di berbagai bidang.
Harris yang tiba di Singapura pada Minggu kemarin telah melakukan kunjungan kehormatan ke Presiden Singapura Halimah Yacob, dan bertemu dengan Perdana Menteri Lee Hsien Loong pada Senin.
PM Lee Hsien Loong mengatakan negaranya dan Amerika Serikat memasuki bidang kemitraan baru termasuk keamanan siber, iklim, dan kerja sama ekonomi.
Lee mengatakan kedua negara juga akan bekerja sama dalam pandemi dan kerja sama luar angkasa.