Umar İdris
21 Mei 2019•Update: 21 Mei 2019
Faruk Zorlu
ANKARA
Turki menentang intervensi asing termasuk upaya kudeta di Venezuela, demikian Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, pada Senin.
Berbicara dalam diskusi panel mewakili Turki, Cavusoglu mengatakan "kami menolak intervensi asing menggunakan cara yang tidak demokratis, termasuk upaya kudeta, mengundang sanksi unilateral untuk mengganti pemerintahan yang legitimate," kata Cavusoglu.
Diskusi panel diadakan oleh institusi think tank Comex di Mexico City. Di lembaga ini diplomate Turki bertemu dengan menteri luar negeri Meksiko Marcelo Ebrard dan Senat Presiden Matri Batres Gunadarma.
Menggarisbawahi pentingkanya kedaulatan dan bebas intervensi terhadap persoalan dalam negeri. "Kami menaruh perhatian terhadap upaya untuk merusak konstitusi dan kedaulatan Venezule", katanya.
Upaya tersebut tidak hanya akan akan mengancam stabilitas, kedamaian, dan keamanan Venezuea, juga sekaligus menciptakan preseden yang berbahaya dan menempatkan wilayah itu dalam bahaya," tambah Covasgu,
Bencana politik di Venezuela menimbulkan konsekuensi yang sangat mengerikan bagi kawasan.
Venezuela diguncang protes sejak Januari ketika presiden terpilih Nicolas Maduro diambil sumpahnya untuk periode kedua, melanjutkan boikot yang dilakukan oposisi pada hari pemungutan suara.
Ketegangan terus meningkat ketika Juan Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara sehari sudah pengambilan sumpah presiden terpilih. Langkah Guaido ini didukung oleh Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan beberapa negara Amerika Latin.
Sedangkan Rusia, Turki, China, Iran, Bolivia, dan Meksiko memberikan dukungan kepada Maduro.
Terorisme sebagai ancaman global
Dalam panel tersebut, Cavusuqlu menyatakan terorisme adalah ancaman global dan musuh kemanusiaan. "Turki selalu menggarisbawahi bahwa kita dapat mengalahkan terorisme hanya melalui kerjasama internasional dengan pendekatan yang tulus dan komprehensif," katanya.
Terorisme adalah tindakan kriminal yang melawan kemanusiaan terlepas siapapun korbannya dan dengan alasan apapun.
Sehingga tidak dibedakan teroris yang baik dan teroris buruk, sambil mengatakan bahwa kelompok teroris Daesh, PKK/PYD/YPG, FETO merupakan kelompok teroris yang mengancam perdamaian dan stabilitas di manapun.
Dia mengatakan, Turki satu-satunya negara yang melawan Daesh dan koalisinya dengan menempatkan tentaranya untuk berkonfrontasi secara langsung dengan teroris Daesh.
Dalam aksi terorisme selama 30 tahun melawan Turki, PKK yang masuk dalam daftar organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa, bertanggungjawab terhadap kematian sekitar 40.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.