Umar Idrıs
21 Januari 2020•Update: 21 Januari 2020
Ugur Aslanhan
ANKARA
Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak mengatakan pada tahun ini Turki diperkirakan akan menarik investasi asing sebesar USD15 miliar atau sekitar Rp204 triliun (kurs Rp13.600 per dollar AS).
Lira Turki akan menjadi mata uang yang kompetitif karena risiko regional terus berlanjut, kata Berat Albayrak pada konferensi pers di Istanbul.
Menurut Albayrak, Turki adalah negara "produsen dan eksportir".
"Risiko regional ada di sini kemarin, hari ini dan akan ada di sini besok."
Dia menekankan bahwa inflasi pada akhir tahun masih di bawah target pemerintah sebesar 15,9 persen, berkat "dukungan kuat" oleh semua pihak. Dia mengatakan: "Inflasi akan terus menjadi jangkar paling penting pada tahun 2020 dan seterusnya."
Albayrak mengatakan negara itu akan meninggalkan 2019 dengan pendaratan lunak (soft landing) dan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang positif.
Ekonomi Turki tumbuh 0,9 persen secara tahunan (year on year) pada kuartal ketiga 2019, setelah mengalami kontraksi sebesar 2,3 persen pada kuartal pertama dan 1,6 persen pada kuartal kedua, secara tahunan.
Albayrak menggarisbawahi bahwa Turki fokus pada pertumbuhan yang seimbang, disiplin dan dengan dukungan sektor manufakturnya, daripada "pertumbuhan tinggi atau kontraksi tinggi, seperti yang biasa dilihat."
Dia menekankan bahwa Turki akan terus memperkenalkan paket insentif untuk mendukung transformasi ekonomi domestik.
"Insentif akan difokuskan pada ketenagakerjaan dan sektor riil dan akan menggantikan impor di banyak sektor dan berorientasi ekspor," tambahnya.
Albayrak mencatat bahwa lapangan kerja akan mengalami pemulihan pada tahun 2020 ketika pemerintah merumuskan dua strategi tambahan.
"Ketenagakerjaan adalah tempat kita yang paling jelas untuk melihat manfaat dari proses penyeimbangan ekonomi," katanya.
Dengan pengalaman menghadapi masa sulit selama 15 tahun, kata Albayrak, Turki tidak akan membuat konsesi dalam stabilitas harga, disiplin anggaran, dan biaya pinjaman.