Esra Tekin
18 April 2026•Update: 18 April 2026
Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan menekankan pentingnya segera “memadamkan api” konflik di kawasan dan berharap gencatan senjata yang telah dicapai dapat berlanjut menjadi perdamaian yang berkelanjutan.
Berbicara dalam Forum Diplomasi Antalya, Fidan menyampaikan harapan agar gencatan senjata selama 14 hari antara Amerika Serikat dan Iran pada 8 April dapat diterapkan sepenuhnya dan berkembang menjadi proses perdamaian jangka panjang. Ia juga menyinggung upaya Pakistan untuk menghidupkan kembali perundingan Washington-Teheran setelah putaran pertama di Islamabad gagal.
Fidan memperingatkan dunia saat ini menghadapi ancaman multidimensi yang saling memicu satu sama lain, sehingga “ketidakpastian dan krisis kini menjadi ciri utama zaman ini.”
Ia menyebut tema forum tahun ini berfokus pada perang di Iran dan dampaknya secara global, melanjutkan tema tahun sebelumnya yang menyoroti situasi di Gaza dan dampak luasnya.
Menurut Fidan, kerusakan besar terhadap sistem internasional dan eskalasi berkelanjutan telah menempatkan kawasan dalam salah satu ujian paling serius dalam sejarah modernnya.
“Dalam proses ini, umat manusia kembali belajar dengan harga mahal bahwa perang tidak memiliki pemenang,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa konflik tersebut menyimpan pelajaran penting, terutama bagi negara-negara di kawasan.
Ia juga memuji pihak-pihak yang berkontribusi terhadap tercapainya gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, khususnya Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, namun mengingatkan agar akar persoalan konflik tidak diabaikan.
Fidan menyoroti ancaman “langsung” dari ekspansionisme Israel terhadap dunia, yang menurutnya bermula dari genosida di Gaza, serta menyerukan kepada pihak-pihak yang menginginkan perdamaian berkelanjutan untuk menghentikan tindakan tersebut.
Ia menambahkan komunitas internasional telah menunjukkan konsensus yang jarang terjadi dalam upaya menghentikan perang, dan momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong dialog dan diplomasi.
“Diplomasi adalah kemauan untuk menghentikan api sebelum meluas, kemampuan memperbaiki hubungan yang rusak, dan keberanian mencegah konflik menjadi fatal. Diplomasi pada akhirnya adalah tentang membentuk masa depan,” kata Fidan.
Ia menyebut pembentukan masa depan bergantung pada dua pilar utama. Pertama adalah reformasi institusi global agar lebih inklusif, transparan, dan akuntabel. Menurutnya, sistem internasional yang lemah dan tidak adil hanya akan memperdalam konflik.
Fidan juga menekankan bahwa proses perdamaian tidak boleh diserahkan kepada aktor-aktor yang merusak, dan komunitas internasional harus memikul tanggung jawab moral dan politik bersama.
Ia menambahkan kemakmuran global harus dibagikan secara lebih adil, serta mengingatkan agar kecerdasan buatan tidak menjadi alat dominasi bagi segelintir pihak.
Beralih ke tantangan kawasan, Fidan menyebut pilar kedua adalah langkah strategis untuk memastikan perdamaian dan kemakmuran jangka panjang.
Ia menyoroti perang Rusia-Ukraina, eskalasi militer Israel dari Gaza hingga Suriah, Lebanon, dan Iran, serta ketidakstabilan di Tanduk Afrika dan Sudan sebagai tanda meningkatnya krisis yang terjadi secara bersamaan.
Menurutnya, Turkiye menjadi salah satu dari sedikit negara yang mampu berbicara dengan semua pihak berdasarkan kepercayaan dan berperan sebagai mediator.
Fidan menegaskan Turkiye memahami dampak krisis tersebut dan akan terus berkontribusi bagi stabilitas kawasan.
Ia menambahkan tatanan kawasan yang berkelanjutan memerlukan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, pengakuan terhadap keberagaman sebagai sumber persatuan, penguatan kerja sama keamanan regional, penghentian penggunaan aktor non-negara, serta kemajuan menuju solusi dua negara bagi Palestina.
Fidan menekankan bahwa langkah berani di tengah krisis mendalam menjadi kunci terwujudnya perdamaian dan stabilitas jangka panjang.