Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Presiden Joko Widodo mengapresiasi pencapaian pasar modal Indonesia pada penutupan akhir tahun 2017, Jumat.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi 6.355,65 pada penutupan perdagangan saham hari ini di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurut Jokowi, panggilan akrab presiden, pencapaian IHSG pada tahun ini melampaui ekspektasi dan kekhawatiran banyak pihak di awal tahun.
“Dulu banyak yag bilang IHSG tembus 6.000 saja sudah bagus. Sekarang malah melampaui,” ujar Jokowi saat menutup perdagangan bursa akhir tahun 2017.
IHSG merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai indikator pergerakan harga saham di BEI yang mencakup harga seluruh saham biasa dan saham preferen yang tercatat di bursa.
IHSG pada level 6.355,65 tersebut menguat 0,66 persen atau 41,61 poin pada 29 Desember dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Kekhawatiran terkait resiko ekonomi yang terjadi di 2017, seperti kenaikan suku bunga serta stimulus fiskal besar-besaran Amerika Serikat yang berpotensi membuat dollar ‘pulang kampung’’ dapat dilampaui dengan baik, kata Jokowi.
“Potensi resiko yang ada jangan sampai membuat pesimistis,” tegas Presiden.
Justru, kata dia, arus modal yang masuk ke Indonesia hingga November lalu mencapai Rp137 triliun meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp126 triliun.
NIlai tukar rupiah juga relatif terjaga dengan volatilitas di level 3 persen. Ekspor Indonesia juga tumbuh 17 persen, ujar presiden.
“Rasa optimistis itu yang harus dijaga dan disebarkan,” Jokowi menegaskan.
Sudah diramalkan
Penguatan IHSG hingga menembus level tersebut pada dasarnya sudah diramalkan oleh pengamat saham dan sekuritas.
Kinerja fundamental makro ekonomi Indonesia yang baik menjadi salah satu sentimen yang memicu pergerakan IHSG hingga mencapai posisinya di kisaran 6.300 saat ini.
“Kenaikan rating investasi dan peringkat utang Indonesia dari berbagai lembaga pemeringkat internasional serta suksesnya tax amnesty menjadi trigger,” ungkap Analis Bahana Sekurities Muhammad Wafi kepada Anadolu Agency.
Baru-baru ini, lembaga pemeringkat internasional Fitch Rating menaikkan peringkat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB. Indonesia juga saat ini menyandang predikat sebagai negara layak investasi atau investment grade.
Kemudian, program amnesti pajak pada tahun ini menghasilkan total surat pernyataan harta yang dilaporkan para wajib pajak mencapai Rp4.855 triliun dengan penerimaan negara dari dana tebusan ditambah tunggakan dan bukti permulaan mencapai Rp135 triliun.
Selain itu, Wafi menilai penyaluran APBN tahun ini untuk proyek-proyek infrastruktur relatif baik meskipun secara realisasi masih ada proyek yang progresnya masih di bawah target.
“Tapi itu lazim dan progress secara umum masih bagus,” ungkap Wafi.
Meskipun IHSG tahun ini terus menguat, menurut Wafi hal tersebut merupakan hal yang tidak terlalu mengejutkan. Bahkan, pada awal tahun ia memperkirakan IHSG dapat menembus level 6.300.
“Kenaikan IHSG secara rata-rata pertahun itu 10 hingga15 persen dan memang dalam perjalannya selalu berfluktuasi,” kata dia.
Tahun 2017 juga menjadi momentum yang baik bagi kinerja pasar saham di Indonesia secara keseluruhan. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio menyebut jumlah investor naik 44 persen menjadi 1,12 juta.
Kenaikan jumlah investor juga diikuti dengan kenaikan nilai investasi investor domestik yang mencapai Rp340 triliun sepanjang tahun, ungkap Tito.
Selain itu, kata dia, sepanjang 2017 terdapat 37 persuahaan yang mulai melantai di bursa dan menjadi yang tertinggi dalam 23 tahun terakhir.
“Jumlah tersebut juga menjadi yang terbanyak di Asia Tenggara,” ungkap Tito.
Tetap terjaga di tahun politik
Tahun 2018 diprediksi akan menjadi tahun yang panas secara suhu politik dengan lebih dari 100 pilkada yang terjadi di seluruh Indonesia.
Selain itu, 2018 juga menjadi pemanasan menjelang pemilihan presiden pada tahun berikutnya.
Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo meminta para pelaku ekonomi terutama investor tidak perlu ‘wait and see’ menunggu momentum. Karena momentum partumbuhan sebenarnya sudah ada dan harus dijaga.
“Jangan sampai kekhawatiran dan ketakutan karena resiko membuat kita kehilangan kesempatan,” kata presiden.
Senada dengan presiden, Wafi juga mengatakan tahun politik pada 2018 justru akan dapat menggerek tingkat konsumsi rumah tangga dan pemerintah yang berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi.
Konsumsi rumah tangga dan pemerintah menurut dia akan didorong oleh penyelenggaraan dua event internasional yaitu Asian Games serta pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Indonesia pada tahun depan, selain tentunya juga terjadi peningkatan konsumsi untuk keperluan pemilihan umum.
Selain itu, Wafi menambahkan kenaikan peringkat utang dan investasi Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional baru akan mulai terasa dampaknya tahun depan, terutama pada triwulan kedua dan ketiga.
“Oleh karena itu, tahun depan kita proyeksikan IHSG dapat tumbuh hingga ke level 7.000. Itu angka yang konservatif, tidak terlalu agresif dan juga tidak pesimistis,” prediksi Wafi.
news_share_descriptionsubscription_contact


