Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bagi masyarakat Indonesia, sepak bola merupakan olahraga sekaligus hiburan utama. Tak mengherankan, setiap pertandingan sepak bola baik di level klub ataupun tim nasional, selalu sesak dipenuhi para supporter maniak.
Namun fanatisme berlebih pendukung klub sepak bola di Indonesia melahirkan rivalitas tanpa batas. Sepak bola tak lagi menjadi hiburan, tapi kuburan bagi pecintanya.
Kasus terbaru, seorang pendukung Persija Jakarta bernama Harlingga Sirila, 23 tahun, tewas akibat dikeroyok oleh sejumlah oknum pendukung Persib Bandung saat dua klub yang terkenal musuh bebuyutan itu berlaga pada Minggu, 23 September, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Harlingga adalah korban jiwa ketujuh rivalitas fans Persija Vs. Persib. Sebelum dia, sudah ada dua orang The Jakmania -- pendukung Persija -- dan empat orang Bobotoh -- pendukung Persib -- yang meregang nyawa.
Imbas dari insiden Harlingga, Kementerian Pemuda dan Olahraga menghentikan Liga Indonesia selama dua minggu. Sementara itu, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) selaku induk organisasi olahraga ini mengaku akan melakukan investigasi mendalam atas kasus ini.
PSSI mengatakan akan segera membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk meredam aksi merugikan di sepak bola. Langkah penghentian liga ini juga akan dilaporkan kepada FIFA dan AFC.
Sejak pertama kali liga Indonesia bergulir pada 1994, berdasarkan data dari Save Our Soccer (SOS), sebuah lembaga swadaya pemerhati sepak bola Indonesia, tercatat 76 supporter sepak bola yang meregang nyawa.
Koordinator SOS Akmal Marhali mengatakan kepada Anadolu Agency, Kamis, jumlah korban meninggal penonton sepak bola terbanyak adalah akibat pengeroyokan yang dilakukan sekelompok supporter kepada kelompok lawannya dengan jumlah korban mencapai 22 orang.
Penyebab kematian lainnya antara lain jatuh dari kendaraan sebanyak 17 korban, pukulan benda keras sebanyak 11 korban, tusukan senjata tajam 14 korban, terinjak 6 korban, terkena gas air mata 2 korban, jatuh dari tribun 2 korban, penembakan 1 korban, dan petasan 1 korban.
Penghentian liga tak cukup
Akmal mengatakan pemerintah dan PSSI jangan sekadar menghentikan liga lalu membuat perjanjian damai antar supporter dan foto bersama, karena tidak akan menyelesaikan masalah.
“Harus ada perjanjian kuat mengikat serta hukuman berat kepada klub [yang pendukungnya berulah] kalau ada lagi korban nyawa di sepak bola,” ujar Akmal.
Hukuman yang bisa diberikan kepada klub, menurut dia, antara lain pengurangan poin di kompetisi, degradasi, hukuman bertanding tanpa penonton selama 1 tahun, hingga pencoretan dari peserta kompetisi.
“Itu akan sangat menyiksa supporter dan membuat mereka takut berlaku anarkis. Karena pada dasarnya, mereka sangat mencintai klub yang didukungnya,” lanjut Akmal.
Menurut dia, hukuman finansial yang dibebankan kepada klub yang penontonnya berbuat anarkis sudah tidak tepat lagi. Seringkali, pendukung justru mengumpulkan dana secara bersama-sama untuk membayar denda yang dijatuhkan kepada klub.
Akmal mengatakan permasalahan di pesepakbolaan Indonesia seringkali menimbulkan kecurigaan antar supporter karena masih maraknya kasus pengaturan skor, mafia wasit, hingga rangkap jabatan para pemilik klub yang juga menjabat sebagai petinggi di PSSI.
“Ini akan memicu kekerasan saat kecurigaannya terbukti,” lanjut Akmal.
Pemangku kepentingan sepak bola, menurut Akmal, harus melakukan pembenahan secara menyeluruh dan jangan bersikap seremonial.
“Kalau tidak, jangan harap tumbal nyawa selesai sampai di sini,” tegas Akmal.
Akmal juga mengatakan para petinggi kelompok supporter harus mengedukasi massanya agar menghilangkan kebencian antar kelompok supporter lain. Misalnya, dengan tidak lagi menyanyikan chant rasis di tribun, tidak membawa benda tumpul dan tajam, serta tidak menyalakan flare saat pertandingan.
“Rivalitas hanya 90 menit. Sepak bola adalah hiburan, bukan kuburan. Jangan jadikan kekerasan jadi kebiasaan,” lanjut dia.
Rivalitas yang kebablasan
Komentar Akmal ini diamini oleh Sekretaris Umum The Jakmania Diky Soemarno. Supporter, sebut dia, seharusnya fokus mendukung klub dan bukan membenci kelompok supporter lain.
“Anggota The Jakmania selalu kami imbau untuk menggunakan energinya mendukung Persija, bukan untuk menyerang kelompok lain,” ungkap dia.
Namun, dia mengakui masih ada anggotanya yang belum dewasa dan memang sulit untuk mendewasakan seluruh supporter. Oleh karena itu, dia menyarankan PSSI membuat aturan yang menyebut klub hanya boleh memiliki satu kelompok supporter saja.
Kalau terjadi kasus berkaitan dengan supporter, kata Diky, mudah untuk dimintai pertanggungjawabannya.
“Kalau pendukung Persija berulah, The Jakmania yang akan bertanggung jawab,” tegas dia.
Yang terjadi di lapangan memang tak seperti itu. Persib, misalnya, memiliki lima kelompok pendukung berbeda. Selain Viking, ada juga kelompok yang menamai diri Bomber, The Bomb, Ultras, dan Casual. Seluruh pendukung Persib ini disebut sebagai Bobotoh
Dirigen Viking Persib Yana Umar yang dihubungi Anadolu Agency mengakui bahwa rivalitas supporter sepak bola saat ini sudah kebablasan.
Padahal, di jajaran pengurus kelompok supporter, tidak ada pertikaian. Umar mengatakan komunikasi dia dengan Ketua Umum Viking Heru Joko dan Ketua Umum The Jakmania Ferry Indrasjarief serta pengurus The Jakmania lainnya tidak ada masalah.
“Tapi memang di akar rumput susah mendamaikan Bobotoh dan The Jakmania,” aku dia.
Oleh karena itu, dia mengusulkan agar setiap pertandingan yang mempertemukan Persib dengan Persija digelar tanpa penonton.
“Ini agar tidak ada keributan lagi. Tidak perlu ke stadion. Nobar saja daripada seperti ini,” ungkap Umar.
Menurut dia, PSSI dan operator liga tidak perlu takut kehilangan potensi ekonomi dari penjualan tiket saat pertandingan antar kedua klub, daripada harus menimbulkan keributan akibat supporter yang belum dewasa.
news_share_descriptionsubscription_contact

