Megiza Soeharto Asmail
27 September 2018•Update: 28 September 2018
Megiza Asmail
JAKARTA
Wakil Presiden Jusuf Kalla memaparkan strategi Indonesia dalam menghadapi masalah kesehatan Tuberculosis di hadapan para pemimpin negara yang hadir di Plenary High-Level Meeting on Fight Against Tuberculosis di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.
Dalam sambutannya, JK – sapaan akrab Jusuf Kalla – mengatakan TB merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati.
“Kami telah melawan penyakit infeksi ini selama beberapa dekade, tetapi perjuangan masih jauh dari kata usai,” kata JK, melalui keterangan resmi yang diterima Anadolu Agency, Kamis.
JK menambahkan, saat ini dunia menghadapi tantangan yang lebih besar dalam memberantas TB, karena munculnya TB yang resisten terhadap banyak obat. Karenanya, kata JK, pertemuan PBB tentang TB yang diadakan pertama kali ini menjadi langkah yang sangat tepat.
“Kita harus memberikan tanggapan yang kuat dan komprehensif untuk mengakhiri penyakit ini,” ujar JK yang mendapat kesempatan berbicara di atas podium setelah
Presiden Republik Togo Essozimna Gnassingbe.
Mewakili Indonesia, JK menegaskan bahwa setiap negara harus menerapkan secara konkret strategi nasional untuk mengakhiri TB.
“Kami, Pemerintah Indonesia, telah menyediakan akses yang lebih besar untuk layanan kesehatan yang berkualitas dan pengendalian risiko TB. Target kami adalah menghilangkan TB pada 2035 dan mencapai 'Indonesia Bebas TB' pada tahun 2050,” tutur JK.
Selanjutnya, JK menilai, harus ada upaya terpadu untuk memperkuat kapasitas deteksi dini kasus TB. Khususnya, kasus baru yang resisten terhadap obat-obatan. Peran keluarga dan masyarakat, imbuh dia, sangatlah penting dalam mengidentifikasi kasus-kasus baru.
Strategi lainnya, kata JK, harus ada akses yang lebih besar dan layanan kesehatan berkualitas yang setara untuk masyarakat umum. Dia pun menuturkan Indonesia saat ini memiliki skema Asuransi Kesehatan Nasional yang telah digunakan oleh lebih dari 200 juta orang, atau lebih dari 70 persen populasi.
“Kami terus menyelesaikan kendala sosial-ekonomi pada orang miskin yang paling rentan terjangkit penyakit menular,” sebut JK.
Melalui pertemuan tersebut, JK juga mengimbau negara-negara untuk meningkatkan pembangunan SDM yang berkapasitas bagi pekerja kesehatan, di samping ketersedian obat-obatan yang berkualitas dan terjangkau.
“Kita juga harus meningkatkan kolaborasi global. Kita tidak boleh berada di pihak yang kalah dalam pertarungan [melawan TB] ini,” tukas JK.