Jihad Nasr
28 Desember 2017•Update: 28 Desember 2017
Jihad Nasr
TRIPOLI, Libya
Jumlah warga Libya yang terdaftar untuk memilih pada pemilu presiden dan parlemen 2018 sekitar 1,6 juta, menurut Kantor Berita Libya resmi (LNA).
Pemilu tahun depan dianggap sebagai komponen penting dari Road Map PBB untuk masa depan politik negara Afrika Utara yang dirundung masalah itu.
Proses pendaftaran pemilih sudah dimulai pada 6 Desember lalu dan dijadwalkan berlanjut hingga dua bulan mendatang.
Namun tanggal pemilu sendiri belum ditetapkan.
Imad al-Saih, kepala komisi resmi pemilu Libya, telah mendesak "semua pihak" untuk ambil bagian dalam proses pemilu di negara bermasalah itu.
"Komisi tidak akan bias terhadap atau melawan partai tertentu," kata kantor berita LNA mengutip al-Saih pada hari Rabu.
Libya mengadakan pemilihan parlemen terakhir pada 2014, dimana sekitar 1,5 juta orang Libya terdaftar untuk memberikan suara.
Road Map penyelesaian konflik Libya, yang disahkan pada Oktober oleh Dewan Keamanan PBB, menyerukan pemilihan parlemen dan presiden yang akan diadakan 2018.
Libya tetap mantap oleh ketidakpastian politik sejak tahun 2011, ketika sebuah pemberontakan berdarah menyebabkan pemecatan dan kematian Muammar Gaddafi yang lebih dari empat dekade berkuasa.
Kekosongan kekuasaan berikutnya menyebabkan munculnya banyak persaingan dalam pemerintah, termasuk di Tobruk dan di Tripoli, serta sejumlah besar kelompok milisi bersenjata.