Muhammad Abdullah Azzam
01 Juni 2018•Update: 02 Juni 2018
Bayram Altuğ
JENEWA
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa komplotan perdagangan manusia di Libya membunuh 12 orang pencari suaka dan melukai belasan orang.
Dalam sebuah konferensi pers di markas PBB di Jenewa, William Spindler, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), mengatakan bahwa para pelaku perdagangan manusia membunuh dan melukai korban human trafficking (perdagangan manusia) warga Eritrea, Ethiopia dan Somali yang berusaha melarikan diri.
Spindler mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada 23 Mei lalu di desa Bani Walid, jarak 180 kilometer dari ibu kota Tripoli.
Para pencari suaka yang berhasil melarikan diri dan bertahan hidup menuturkan bahwa mereka yang melarikan diri akan ditembak mati, dan beberapa dari mereka telah menjadi korban selama 3 tahun.
Spindler menuturkan, otoritas Libya telah menyelamatkan 140 orang yang berhasil melarikan diri dari komplotan perdagangan manusia serta menempatkannya ke pusat penahanan resmi yang berjarak 28 kilometer di selatan Tripoli.
Spindler mencatat, pihaknya mempercayai bahwa masih banyak pengungsi yang ditawan oleh pelaku human trafficking di wilayah Bani Walid dan sekitarnya.