Muhammad Abdullah Azzam
31 Oktober 2018•Update: 31 Oktober 2018
Peter Kum
DAKAR
Sebanyak 15 pemberontak tewas dalam bentrokan antara pasukan militer dan kelompok separatis di wilayah Barat Laut, Kamerun.
Komandan satuan gendarmerie di wilayah itu, Jenderal Essoh Jules Cesar mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa anggota kelompok separatis pada Selasa menyerang pangkalan satuan gendarmerie di sana.
Cesar menyatakan bahwa pihaknya dapat melakukan pertahanan dan menghancurkan serangan itu dengan mudah karena telah mendapatkan kabar serangan tersebut sebelumnya.
Lebih dari 15 pemberontak terbunuh dalam bentrokan itu, ujar Cesar.
Menyusul terpilihnya kembali Presiden Kamerun Paul Biya pada 7 Oktober, militer mulai fokus melakukan operasi terhadap kelompok separatis di wilayah Anglophone (wilayah berbahasa Inggris) di barat laut Kamerun
Kamerun telah diriuhkan oleh protes selama lebih dari setahun, dengan penduduk di daerah yang berbahasa Inggris mengaku telah dipinggirkan selama beberapa dekade oleh pemerintah pusat dan kelompok mayoritas yang berbahasa Prancis.
Para demonstran menyerukan untuk kembali ke federalisme atau ke negara berbahasa Inggris, yang oleh para demonstran disebut sebagai "Republik Federal Ambazonia".
Krisis di wilayah Anglophone, yang dimulai sebagai sebuah demonstrasi sektoral, berkembang dengan cepat menjadi sebuah pemberontakan bersenjata, menyusul represi kekerasan pasukan keamanan Kamerun pada 22 September dan 1 Oktober 2017, menurut International Crisis Group (ICG).