Ekip
01 Januari 2018•Update: 02 Januari 2018
Narges Rezai dan Mustafa Melih Ahishali
ISTANBUL
Sebanyak 200 pedemo anti-pemerintah ditahan di ibu kota Iran, Teheran, sepanjang demonstrasi pada Sabtu, menurut Kantor Berita Buruh Iran (ILNA).
Beberapa pedemo yang ditahan kemudian dilepaskan, kata Wakil Gubernur Provinsi Teheran Ali Asghar Naserbakht kepada ILNA.
Sejumlah 40 lainnya yang dianggap sebagai pemimpin demonstrasi tetap ditahan, tambah Naserbakht.
Kepala Jaksa Penuntut Umum di Teheran Abbas Jaffari Dolatabadi mengatakan, sekelompok pemrotes bertindak membahayakan sebuah masjid, sebuah pom bensin, kantor-kantor pemerintah, dan fasilitas umum.
Ribuan rakyat Iran turun ke jalan di kota-kota bagian timur laut pada Kamis untuk memprotes naiknya harga-harga dan mismanajemen dalam sistem pemerintahan. Protes ini dengan cepat menyebar menjadi demonstrasi anti-pemerintah di seluruh negara.
Pada Sabtu, ribuan orang lain juga turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan mereka untuk rezim.
Menurut media lokal, pendukung pemerintah di kota-kota besar, termasuk ibu kota Teheran, meminta rezim untuk memenuhi rekomendasi ekonomi dari Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Berbicara di Masjid Grand Musalla di Teheran, Mahmoud Araki, anggota Dewan Ahli Khamenei, berkata bahwa Iran sedang perang harga dengan Barat dan pemerintahan Hassan Rouhani seharusnya menjalankan program “Perlawanan Ekonomi” yang dibuat Khamenei.
Seruan yang sama juga datang dari protes pro-pemerintah di kota terbesar di Iran, Mashhad, yang juga merupakan pusat demo anti-pemerintah.
Sebuah video yang disebarkan oleh media lokal menunjukkan demo di Teheran, Mashhad, dan kota-kota lain sebagai perayaan berakhirnya gerakan “hasutan” – demonstrasi besar terakhir di Iran yang terjadi setelah pemilihan presiden 2009.