04 Agustus 2017•Update: 04 Agustus 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran memanas. Iran menolak memberikan izin tim Arab Saudi untuk mengunjungi kedutaan besar Arab Saudi di Teheran dan konsulat jenderal di Masyhad. Keputusan itu terhitung dari penyerahan nota resmi Saudi kepada utusan tetap Iran di PBB.
“Hal ini menunjukkan Iran tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan investigasi atas penyerangan kantor kedubes Arab Saudi di Teheran pada Januari 2016 yang lalu, serta ketidakseriusan dalam menangkap para pelaku untuk diadili,” demikian bunyi pernyataan resmi Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, pada Jum’at.
Arab Saudi mengaku tidak heran atas sikap Iran. Negara tetangganya itu dianggap memiliki sejarah kelam dalam pelanggaran terhadap imunitas diplomatik.
Arab Saudi menyebutkan beberapa kasus pelanggaran imunitas diplomatik di Iran antara lain penyerangan kedubes Amerika Serikat tahun 1979 dan penyekapan para pegawainya selama 444 hari, penyerangan atas kedubes Arab Saudi tahun 1987, penyerangan atas kedubes Kuwait tahun 1987, kedubes Rusia tahun 1988, serta penyerangan-penyerangan lainnya.
“Penolakan Iran terhadap tim Arab Saudi ini menegaskan bahwa pemerintah Iran tidak memiliki iktikad baik dan bertindak secara tidak logis dalam upaya mengakhiri perselisihan dan kesenjangan hubungan kedua negara,” tulis pernyataan Arab Saudi.
Iran, kata Saudi, disinyalir terus melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma-norma dan konvensi internasional. “Penolakan tersebut juga menunjukkan bahwa pelanggaran atas kekebalan misi diplomatik Saudi merupakan tindakan yang terorganisisasi dan bukan reaksi spontan warga Iran.”
Aksi tersebut juga dianggap merupakan bagian dari rencana yang didukung sepenuhnya oleh rezim Iran untuk meningkatkan eskalasi ketegangan.