Surya Fachrizal Aprianus
04 Juni 2019•Update: 04 Juni 2019
Mohammed Amin
KHARTOUM
Setidaknya 35 demonstran tewas dan ratusan lainnya cedera, Senin, ketika pasukan keamanan Sudan bergerak untuk membersihkan kamp protes utama di dekat markas tentara di ibukota, Khartoum.
Angka-angka terbaru diumumkan oleh penyelenggara protes Komite Sentral Dokter Sudan.
Saksi mata mengatakan pasukan keamanan menggunakan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa yang telah berkemah di dekat markas militer sejak penggulingan Presiden Omar al-Bashir pada April.
"Pasukan pemerintah secara agresif menyerang ribuan warga sipil dalam aksi duduk itu," kata Asosiasi Profesional Sudan (SPA) dalam sebuah pernyataan.
Aliansi Deklarasi Kebebasan dan Perubahan sebelumnya mengatakan bahwa 13 pengunjuk rasa telah tewas dan ratusan lainnya terluka ketika pasukan keamanan bergerak untuk membubarkan kamp.
Negosiator oposisi Abbas Medani dilaporkan terluka selama pembubaran, menurut saksi mata.
"Kami menganggap Dewan Militer Transisi (TMC) bertanggung jawab atas apa yang terjadi pagi ini," kata SPA.
TMC menolak tuduhan aksi kekerasan
"Kami tidak menghentikan aksi duduk secara paksa," kata juru bicara Letnan Jenderal Shamseddine Kabbashi kepada Sky News Arabia yang berbasis di Dubai.
"Pemuda bergerak bebas dan tidak ada tentara di daerah kamp protes," katanya.
Kabbashi mengatakan, pasukan keamanan hanya menyerbu daerah "Kolombia" yang terletak di bawah jembatan besi Jalan Al-Nil di Khartoum, yang ia gambarkan sebagai "berbahaya".
Dia berharap pembicaraan antara para pemimpin protes dan TMC tentang transisi ke pemerintahan sipil untuk dilanjutkan pada hari Senin atau Selasa.
Aksi duduk di dekat markas tentara telah menjadi pusat protes menuntut TMC menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil.
Pada awal April, pasukan militer Sudan menggulingkan al-Bashir - setelah berbulan-bulan demonstrasi rakyat menentang kekuasaannya selama 30 tahun.
TMC sekarang mengawasi periode transisi dua tahun dan berjanji untuk mengadakan pemilihan presiden.
Demonstran tetap di jalan menuntut agar TMC menyerahkan kekuasaan secepat mungkin kepada otoritas sipil.
TMC menyatakan akan mengadakan pemilu sembilan bulan ke depan, terhitung sejak Senin kemarin, dan telah membatalkan semua perjanjian dengan para demonstran.