Surya Fachrizal Aprianus
24 Februari 2019•Update: 25 Februari 2019
Erdoğan Çağatay Zontur
CUCUTA
Setidaknya empat orang tewas dan 200 lainnya terluka dalam protes anti-pemerintah di Venezuela pada Sabtu.
Selain itu 51 orang ditangkap dalam aksi yang berujung bentrok dengan pasukan keamanan di perbatasan Kolombia itu.
Para pengunjuk rasa meminta pemerintah Venezuela membuka perbatasan dan mengizinkan bantuan kemanusiaan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela, seperti ditulis dalam pernyataan organisasi Foro Penal, LSM asal Venezuela.
Sebelum bentrokan Sabtu lalu, Venezuela memutuskan hubungan diplomatik dengan Kolombia.
Berbicara di ibu kota Caracas, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan dia tidak bisa lagi mentolerir "wilayah Kolombia digunakan untuk serangan terhadap Venezuela".
Presiden kubu oposisi Venezuela, Juan Guaido, mengklaim gelombang pertama bantuan telah memasuki negara itu lewat perbatasan Brasil.
Venezuela menutup sementara perbatasan dengan Kolombia Jumat malam.
Maduro mengatakan dia akan meminta pertanggungjawaban Presiden Kolombia Ivan Duque atas kekerasan pada 23 Februari itu.
Venezuela juga telah menutup perbatasan lautnya dengan tiga pulau: Karibia Belanda - Curacao, Aruba, dan Bonaire.
Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela pada 23 Januari hingga pemilihan baru diadakan. Aksi Guaido diakui oleh Australia, Kanada, Kolombia, Peru, Ekuador, Paraguay, Brasil, Chili, Panama, Argentina, Kosta Rika, dan AS. Parlemen Eropa juga mengambil langkah yang sama.
Di sisi lain Turki, Rusia, Iran, Kuba, Cina, dan Bolivia menegaskan kembali dukungan untuk Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang berjanji untuk memutuskan semua hubungan diplomatik dan politik dengan AS.
Presiden AS Donald Trump menyebut intervensi militer sebagai salah satu pilihan yang bisa dia gunakan untuk menyelesaikan krisis di Venezuela.