Muhammed Emin Canik
BUENOS AIRES
Argentina, Venezuela, Kuba, dan Meksiko mengecam pengunduran diri Presiden Bolivia Evo Morales kemarin setelah kepala militer mendesaknya untuk mundur, menyebut proses tersebut sebagai "kudeta".
Dalam sebuah posting di Twitter, presiden terpilih Argentina Alberto Fernandez, yang akan mengambil alih kekuasaan pada bulan Desember, mengatakan "kudeta" dilakukan di Bolivia karena terjadi protes keras oleh warga sipil, kelalaian pasukan polisi dan tidak responsifnya tentara.
Fernandez mengkritik proses yang menyebabkan pengunduran diri Morales dan meminta Bolivia untuk mendukung demokrasi.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro mendesak semua kelompok sosial dan politik di seluruh dunia untuk memprotes tindakan militer Bolivia.
Berbicara di Twitter, Maduro mengatakan dia mengutuk "kudeta" terhadap Morales dan mengatakan orang-orang di Venezuela akan mengadakan protes untuk membela hak-hak masyarakat adat Bolivia, yang menjadi "korban" rasisme.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel Bermudez mengatakan bahwa orang-orang kanan di Bolivia menyerang demokrasi dengan "kudeta" yang keras dan pengecut dan dia berdiri bersama Morales, menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memobilisasi pembebasan Morales.
Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard mengatakan negaranya akan mempertahankan posisinya untuk menghormati demokrasi dan menolak operasi militer yang sedang berlangsung di Bolivia.
"Tidak untuk kudeta," tambah dia.
Ebrard mengatakan negaranya akan menawarkan suaka kepada Morales, menambahkan 20 pejabat Bolivia dari eksekutif dan legislatif sedang "ditampung" di kedutaan Meksiko di kota La Paz, Bolivia.
Dalam sebuah pernyataan hari Minggu, Morales mengatakan dia mengundurkan diri untuk mencegah kemungkinan bahaya bagi oposisi dan rakyat Bolivia dan menggarisbawahi bahwa dia tidak punya alasan untuk melarikan diri dari negara itu.
Dia menegaskan akan terus berjuang untuk perdamaian dan kesetaraan, Morales berkata: "Ini tidak berakhir di sini."
Morales mengatakan dia memerintah negara itu selama lebih dari 13 tahun dan mereka yang kalah melawannya dalam pemilihan menuduhnya sebagai diktator.
Bolivia telah terperosok dalam kerusuhan politik menyusul dugaan penyimpangan dalam pemilihan presiden yang diadakan 20 Oktober di mana organisasi pemantauan internasional mengklaim telah menemukan manipulasi sistem pemungutan suara.
Morales mendapat 47,8 persen suara dan memastikan kemenangan di putaran pertama pemilu.
Carlos Mesa, pemimpin oposisi utama partai Front Kiri Revolusioner, mengatakan dia tidak akan mengakui kemenangan Morales, yang mengklaim ada "penipuan" dalam penghitungan suara.
Morales telah menjadi presiden sejak 2006.
* Ditulis oleh Ali Murat Alhas
news_share_descriptionsubscription_contact
