08 Agustus 2017•Update: 08 Agustus 2017
Erric Permana
JAKARTA
Amnesty Internasional Indonesia dan sejumlah LSM HAM meminta adanya investigasi independen dalam kasus penembakan masyarakat Papua di Kampung Oneibo, Kabupaten Deiyai yang menyebabkan satu orang tewas pada 1 Agustus lalu.
“Temuan investigasi itu harus dipublikasikan dan mereka yang diduga bertanggung jawab atas pelanggaran pidana, mereka yang memiliki tanggung jawab komando harus dibawa ke muka hukum,” tegasnya.
Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid menilai sikap represif yang dilakukan satuan Brimob di Deiyai membuktikan adanya kesalahan sistem penegakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Kepolisian, kata dia, seharusnya menurunkan satuan Pengendalian Massa (Dalmas) untuk menangani masyarakat.
“Brimob satuan paramiliter, bukan aparat penegak hukum, tetapi aparat yang dilatih secara militer untuk pengamanan kekuatan penggunaan senjata api,” jelasnya.
Usman Hamid menambahkan tragedi di Deiyai menambah daftar panjang kasus kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap masyarakat. Bahkan kata dia, kasus ini selalu berulang lantaran sistem penegakan hukum di sana tidak berjalan.
“Setiap kali ada gejolak sedikit, aparat kepolisian tidak segan menggunakan senajata api karena merasa tidak Ada kekhawatiran tindakannya dimintai tanggung jawab di pengadilan,” tambahnya.
Sementara itu berdasarkan catatan LSM Pemantau Hak Asasi Manusia Kontras, ada sekitar 16 kasus kekerasan terhadap masyarakat di Papua selama Agustus 2016 hingga Agustus 2017. Koordinator Divisi Hukum dan HAM Kontras, Arif Nurfikri mengatakan dari semua kasus tersebut kepolisian memilih menggunakan senjata api dibandingkan pendekatan dialog.
“Kontras mencatat 44 korban luka-luka akibat senjata api, sementara 3 lainnya meninggal dunia karena penggunaan senjata api,” jelasnya.
Berikut Kronologi penembakan di Deiyai yang didapat Amnesty Internasional Indonesia:
Selasa, 1 Agustus 2017
Pukul 7.30 WIT (Waktu Indonesia Timur)
Kasianus Douw/Doupouga, seorang pemuda Oneibo tenggelam ketika sedang mencari ikan di sungai. Ketika teman-temannya menolong, mereka mendapati Kasianus masih bernafas dan meminta bantuan pekerja proyek jembatan untuk membawa Kasianus ke RSUD Uwibitu Madi menggunakan mobil perusahaan. Namun kepala proyek yang dikerjakan perusahaan konstruksi PT Putra Dewa Paniai di situ enggan membantu karena takut dipermasalahkan warga jika terjadi apa-apa di tengah jalan. Karena ditolak, warga mencari mobil lain di terminal Waghete.
Pukul 10.30 WIT
Kasianus meninggal di tengah jalan saat dibawa ke RSUD Uwibutu Madi, Kabupaten Paniai. Hal ini dikonfirmasi oleh dokter saat jenazah dibawa ke UGD.
Pukul 13.30 WIT
Jenazah diantarkan kembali ke rumah di Kampung Oneibo. Keluarga dan masyarakat mendapat informasi bahwa jika karyawan proyek mau mengantar Kasianus ke rumah sakit nyawanya mungkin tertolong. Marah mendengar kabar ini beberapa warga mendatangi tenda tempat para pekerja dan terjadi kericuhan. Warga mengatakan bahwa dari kericuhan tersebut hanya mengakibatkan tenda proyek sobek. Namun menurut keterangan perusahaan terdapat beberapa karyawannya yang mengalami penganiayaan.
Pukul 14.00 WIT
Terdapat dua anggota Brimob (dan 1 anak buah PT Dewa) datang ke lokasi proyek untuk mengusir warga keluar dari lokasi. Setelah itu mereka kembali ke arah Waghete.
Pukul 15.20 WIT
Upaya dialog diajukan oleh beberapa tokoh masyarakat untuk mengurai ketegangan. Saat warga masih berada di lokasi perusahaan PT. Dewa, datang mobil patroli Brimob dan mobil patroli Dalmas beserta mobil lain milik perusahaan dan 1 truk untuk mengangkut karyawan. Mobil perusahaan dan truk karyawan parkir di luar lokasi proyek sedang mobil Brimob mendekati lokasi proyek.
Sekitar enam sampai sepuluh anggota Brimob turun dari mobil dan menambah ketegangan di lokasi proyek. Pemuda yang berada di lokasi proyek mengambil batu dan kayu serta terdapat warga yang membawa panah untuk mengusir pasukan Brimob. Kepala Desa Oneibo, Anton Pekey berusaha menurunkan ketegangan namun para pemuda tetap mengejar anggota Brimob hingga agak jauh dari perumahan masyarakat.
Pukul 16.25 WIT
Batu yang dilemparkan oleh pemuda mengenai anggota Brimob dan memicu penembakan kepada warga. Menurut keterangan saksi tidak ada tembakan peringatan sebelumnya. Jarak antara penembak dan warga kurang lebih 4 meter. Para pemuda yang tertembak berjatuhan dan beberapa menceburkan diri ke kolam dan selokan. Anggota Brimob langsung naik ke mobil patrol dan menuju ke kantor PT. Dewa. Menurut keterangan saksi, sebelum meninggalkan lokasi anggota Brimob sempat menantang masyarakat untuk unjuk senjata mereka: “Kamu jago mana kamu punya senjata itu”. Sedangkan saat kejadian berlangsung, anggota Dalmas hanya melihat kejadian itu dari jauh di dalam mobil patroli mereka. Baik mobil Dalmas maupun milik perusahaan ikut beranjak saat mobil patroli meninggalkan lokasi kejadian.
Pukul 17.15 WIT
Masyarakat membawa beberapa korban ke rumah sakit Waghete. Yulianus Pigai yang tertembak pahanya sempat berjalan kaki ke arah SD Inpresdan baru mendapat tumpangan ke RSUD Waghete. Namun nyawanya tak tertolong.