Nani Afrida
04 Februari 2019•Update: 05 Februari 2019
Umar Farooq
WASHINGTON
Arab Saudi seharusnya tidak diizinkan untuk berhubungan secara normal dengan seluruh dunia sampai kerajaan itu "melakukan lebih dari sekedar perubahan" setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, kata Dewan Editor The Washington Post dalam sebuah opini.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah banyak dikritik setelah pembunuhan Khashoggi, seorang kontributor The Post, di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Pemerintah Saudi pada awalnya menolak bertanggung jawab. Mereka berganti cerita beberapa kali sebelum akhirnya mengakui bahwa memang terjadi operasi pembunuhan yang dilakukan sebuah kelompok yang "tidak ada hubungannya" dengan kerajaan.
"Putra mahkota berusia 33 tahun itu telah menindas lawan yang nyata dan dipersepsikan dengan kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Saudi. Hal ini memuncak dalam pembunuhan dan mutilasi wartawan Jamal Khashoggi," kata dewan editorial, Sabtu.
Komunitas internasional menolak untuk menerima klaim Saudi bahwa insiden itu bukan pembunuhan berencana.
Agnes Callamard, pelapor khusus PBB untuk eksekusi di luar proses hukum memimpin penyelidikan internasional terhadap pembunuhan Khashoggi.
"Rezim menjanjikan pertanggungjawaban atas pembunuhan Khashoggi, tetapi dalam praktiknya terus menghalanginya," tulis dewan itu. "Pelapor khusus Agnes Callamard, minggu lalu ini ditolak aksesnya ke TKP di Konsulat Saudi ketika dia mengunjungi Istanbul."
The Post menguraikan langkah-langkah yang diambil oleh negara itu untuk mencoba dan mengembalikan reputasi internasionalnya, termasuk pembebasan salah satu pengusaha terkemuka yang ditahannya, Amr Dabbagh, serta mengadakan konferensi investasi yang mencari USD426 miliar dalam investasi swasta, dan membawa masuk penyanyi Mariah Carey untuk melakukan konser.
"Tujuannya di sini jelas: untuk melanjutkan perdagangan normal antara Arab Saudi dan dunia demokrasi, dan menarik investasi yang sangat dibutuhkan, tanpa perubahan berarti dalam rezim yang dikendalikan oleh Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman. Ini demi kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya. , dan juga Arab Saudi sendiri, bahwa strategi ini gagal, " tulis dewan itu lagi.
The Post mengatakan bahwa di tengah-tengah semua yang terjadi di Arab Saudi, Presiden AS Donald Trump tampaknya tidak masalah dengan hal tersebut.
Namun, jika Trump terus menormalkan hubungan dengan kerajaan dan bin Salman setelah pembunuhan Khashoggi, itu akan memiliki "konsekuensi jangka panjang yang buruk."
"Para pembela Mohammed bin Salman sering berbicara tentang perlunya menjaga 'stabilitas' di kerajaan. Tetapi sekarang tidak stabil, dan menjadi lebih tidak stabil lagi. Cara terbaik untuk menumbuhkan keseimbangan sejati bagi pemerintah, investor dan penghibur Barat adalah dengan menghindari rezim sampai itu bisa menunjukkan lebih dari sekedar perubahan," tulis dewan editor itu.