Rıskı Ramadhan
11 April 2018•Update: 12 April 2018
Muhammed Bilal Kenasari
WASHINGTON
Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Heather Nauert menghindari untuk berkomentar soal pembunuhan jurnalis Palestina Yaser Murtaja (30) oleh penembak jitu Israel, Selasa.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, yang kerap membuat pernyataan sehubungan dengan kebebasan pers di banyak negara dalam konferensi pers harian, bungkam soal wartawan yang dibunuh oleh Israel.
"Kami mengetahui laporan tentang tewasnya seorang wartawan yang bertugas di Gaza dalam bentrokan di Gaza. Saya tidak memiliki rincian tentang kasus ini, namun saya dapat mengatakan bahwa kami memantaunya,” kata Nauert menanggapi pertanyaan mengenai Murtaja yang menjadi target penembak jitu Israel meski mengenakan rompi pers.
Ketika ditanyai komentarnya soal tentara Israel yang menargetkan jurnalis, Nauert membuat pernyataan yang tidak berhubungan dengan pertanyaan itu.
“Saya dapat mengatakan bahwa kami telah menyerukan penekanan baru pada dialog damai, mencoba untuk membawa dua pihak kembali untuk berbicara tentang masa depan perdamaian antara Israel dan Palestina. Dan tentu saja kejadian minggu lalu telah sangat mengganggu,” kata Nauert.
Juru bicara menambahkan bahwa pihak berwenang Israel telah memulai penyelidikan atas masalah ini dan mereka akan menunggu hasil dari penyelidikan tersebut.
Pernyataan berlawanan dari Israel dan AS
Saat diingatkan bahwa Murtaja telah berhak mendapatkan dukungan ekonomi dari Badan Bantuan Pembangunan Internasional AS (USAID) setelah melewati penyelidikan keamanan, Nauert mengatakan, "Sejauh yang saya tahu, Murtaja telah melewati penyelidikan keamanan di bawah prinsip peraturan pemerintah AS, tetapi saya tidak memiliki rincian lebih jauh tentang itu."
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengklaim bahwa Murtaja adalah anggota Hamas “sejak lama”.
Media AS dan Israel melaporkan bahwa perusahaan tempat Murtaja bekerja telah berhak mendapatkan dukungan ekonomi dari USAID.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menolak berkomentar soal kontradiksi ini.
Seorang wartawan Palestina, Yaser Murtaja, terluka setelah ditembak oleh tentara Israel saat meliput aksi Great Return March pada 6 April, Murtaja meninggal beberapa jam setelah tertembak.